SEBELUM sampai pada Hari Raya Idul Fitri ada kebiasaan masyarakat yang selalu dilakukan untuk menyambut hari kemenangan, yaitu malam takbiran. Namun, kebiasaan tersebut memiliki perbedaan antara satu daerah dengan daerah lainnya.
Di Indonesia ada kebiasaan malam takbiran yang terkait dengan tradisi dari daerah tersebut berasal. Nilai filosofi dan makna mendalam pun terkandung di dalam tradisi malam takbiran, dirangkum dari berbagai sumber, berikut daftar tradisi malam takbiran yang ada di berbagai daerah di Indonesia.
Baca juga: 6 Mahluk Mistis Ini Pernah Hidup di Bumi, Apa Saja?
1. Ronjok Sayak, Bengkulu
Masyarakat Bengkulu memiliki kebiasaan malam takbiran yang cukup unik, yaitu ronjok sayak, karena mereka menumpuk batok kelapa hingga menyerupai menara kecil di setiap halaman rumah, lalu membakarnya. Ronjok sendiri artinya bakar gunung dan sayak adalah batok kelapa.
2. Nasi jaha, Sulawesi Utara
Nasi jaha ini ada dalam tradisi yang disebut binarundak yang dilakukan oleh masyarakat daerah Motoboi Besar, Provinsi Sulawesi Utara. Keunikan tradisi malam takbiran ini terletak pada nasi jaha, yang dibuat dari bahan dasar beras ketan, jahe, dan santan, lalu dimasukkan ke dalam sebatang bambu, kemudian dibakar.
Baca juga: Wajah Polos Raisa di Masa Lalu, Beda Banget Tapi Menggemaskan!
3. Tumbilotohe, Gorontalo
Malam takbiran yang selalu diperingati oleh masyarakat beragama Islam di Gorontalo ini, pun dianggap sebagai momen yang menandai berakhirnya Ramadan. Tumbilotohe menjadi tradisi malam takbiran dari Gorontalo yang selalu dilakukan oleh masyarakatnya sejak abad ke 15 silam, dengan cara menghias tanah lapang dengan lampu minyak, yang membentuk formasi bernuansa Islami, seperti masjid, kaligrafi, dan sebagainya.
4. Menyulut meriam, Pontianak
Pontianak pun memiliki tradisi malam takbiran yang tidak kalah unik. Meskipun warga lokal menyulut meriam dan suara berdebum terdengar di hampir semua daerah di Pontianak, ternyata makna di balik menyulut meriam ini adalah agar tidak ada roh jahat yang mengganggu masyarakat saat hari kemenangan tiba.
5. Meugang, Aceh
Membagikan atau menghantarkan daging pada orang-orang yang kurang mampu saat malam takbiran di Aceh disebut meugang. Makna dari meugang yang selalu diperingati tiap kali menyambut Hari Raya Idul Fitri tersebut untuk menjaga keharmonisan hubungan antar warga.
(Fakhri Rezy)