PERMASALAHAN sampah tampaknya masih menjadi salah satu permasalahan serius yang dihadapi oleh Pemerintah Indonesia. Kerusakan ekosistem akibat sampah pun semakin mengancam mengingat Indonesia memiliki populasi sekitar 260 juta penduduk yang tersebar di seluruh daerah.
Bahkan, menurut data yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya (B3), Rosa Vivien Ratnawati, proyeksi volume sampah rumah tangga dan sejenis sampah rumah tangga pada 2018 akan meningkat hingga mencapai 66,5 juta ton.
Oleh karena itu, pada peringatan Hari Lingkungan Hidup, pemerintah kembali mengeaskan komitmen mereka untuk mewujudkan target Indonesia bebas sampah pada 2025 mendatang. Setidaknya target yang dicanangkan mencakup pengurangan sampah plastik ke laut sebesar 75%.
Tentu bukan pekerjaan yang mudah mengingat isu sampah ini melibatkan berbagai pihak, termasuk masyarakat umum. Kesadaran masyarakat terhadap pengolahan sampah pun dinilai masih kurang sehingga diperlukan sosialisasi dan edukasi secara komprehensif.
"Kesadaran mengolah sampah itu masij rendah karena masyarakat kurang peduli memberi contoh atau pelajaran kepada generasi muda. Sangat penting mengubah perilaku masyarakat sebelum mereka beranjak dewasa. Oleh karena itu, diperlukan edukasi sejak dini untuk menanggulanginya," ujar Nani Hendriati, Asisten Deputi Pendayagunaan IPTEK Maritim Kementerian Koordinator Maritim, dalam acara Danone-AQUA #BijakBerplastik, di Raffles Hotel, Jakarta, Selasa 5 Juni 2018.
Lebih lanjut Nani mengatakan, pengelolaan sampah yang tepat justru dapat membantu pembangunan infrastruktur di daerah-daerah terpencil. Contohnya adalah Labuan Bajo. Pembangunan jalan raya di daerah ini ternyata menggunakan limbah sampah plastik untuk campuran aspal.