"Mengadvokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD) bersama-sama melakukan budaya stop merokok yang dimulai dari rumah tangga masing-masing, yang dikawal oleh guru SD-SMA dengan mengedepankan syarat ujian diikuti oleh mereka yang tidak merokok," imbuhnya.
PERKI juga mengupayakan agar budaya ini dapat dicapai dengan murah karena pro aktif dari para keluarga, bukan hanya mengenal dan mengetahui bahaya risiko merokok, tapi juga risiko kardiovaskuler lain yang juga jadi budaya malu untuk melakukan kebiasaan merokok. Program PERKI ini dinamakan sebagai keluarga pro aktkf kardiovaskuler Indonesia.
"Dengan adanga program tersebut, diharapkan perokok aktif akan menurun dan tidak terjadi pada usia kanak, yang membuat sangat memperihatinkan. Sebab, kalau meningkat bahaya emergency harus ditanggulangi demi kepentingan bangsa dan negara," tutupnya.
(Fakhri Rezy)