"Tahun 2014 kami sudah melakukan tinjauan pustaka mengenai penelitiab yang sudah dilakukan di luar negeri. Tahun berikutnya kami mulai meneliti liquid yang digunakan pada vape. Dan 2017 lalu, kami meneliti mulut para pengguna vape, perokok aktif, dan mereka yang tidak merokok sama sekali," jelas Amalya.
Hasil penelitian menunjukkan, sel-sel yang melapisi pipi bagian dalam para perokok aktif, diketahui memiliki inti sel yang lebih banyak dibandingkan pengguna vape dan mereka yang bukan perokok. Dengan kata kain, sel-sel ini memiliki kecenderungan mengalami ketidakstabilan yang dapat mengakibatkan displasia.
Kendati demikian, dr. Feni Fitriani Taufik, Sp. P(K), salah satu anggota Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) mengatakan, bahwa selama ini telah terjadi kesalahan presepsi di kalangan masyarakat Indonesia. Banyak yang mengira vape merupakan salah satu cara terbaik untuk berhenti merokok, dan terhindar dari efek sampingnya.
Namun pada kenyataannya, WHO telah mengeluarkan sebuah pernyataan bahwa rokok elektrik ini sangat tidak direkomendasikan meski efek sampingnya tidak separah rokok konvesional (less harmful).
"Kalau bisa berhenti sepenuhnya kenapa harus berpindah ke vape. Lagi pula vape itu menggunakan proses pemanasan yang secara tidak langsung ada bahan-bahan kimia seperti plastik dan logam yang memicu timbulnya zat karsinogenik," tukas Feni.
(Helmi Ade Saputra)