Ratih juga mengungkap, mainan yang diperoleh anak terlalu banyak harus diselidiki dulu asalnya dari mana dan apa tujuannya. "Orangtua membelikan mainan terlalu banyak kepada anak untuk apa, untuk dimainkan sampai selesai atau hanya untuk sogokan," tanyanya.
Ia menjelaskan kalau tujuan orang tua hanya untuk sogokan agar anak mau makan atau tidak rewel, maka hal tersebut salah. Kembali lagi, orangtua harus paham apa tujuan membelikan anak mainan. Sebab mainan bukan untuk sekadar punya-punyaan dan menyenangkan anak.
"Tujuannya tentu harus untuk menstimulasi kecerdasan. Misalnya anak belajar warna, angka, bentuk, mengenal nama-nama hewan, dan lain sebagainya. Kalau hanya banyak tetapi tidak ada gunanya itu salah," tegas Ratih.
Psikolog dari dua orang anak ini juga menambahkan bahwa semua mainan memiliki manfaat. Sekecil apa pun itu. Dan, mainan tidak harus yang dibeli dari toko mainan. Tetapi apa saja bisa jadi mainan, termasuk barang-barang sederhana yang ada di rumah. Orangtua harus kreatif menciptakan mainan dari benda apa saja.
(Dinno Baskoro)