MENYUMBANGKAN otak mungkin tidak pernah Anda duga ada di dunia ini sebelumnya. Tapi, menyumbangkan otak nyatanya ada dan sudah ada orang yang berencana akan menyumbangkan otaknya.
Orang tersebut adalah Ken Baxter, pria berumur 75 tahun, yang telah bersedia menyumbangkan otaknya setelah meninggal nanti. Sementara, peneliti dari Cardiff University merekrut donor otak yang sehat untuk dibandingkan dengan otak yang mengidap demensia.
“Ketika hidup saya telah selesai, otak ini sudah tidak berguna bagi saya lagi,” ucap Ken Baxter, dikutip dari BBC, Selasa (27/2/2018).
Sejak 2009 ada sekira 460 orang di Wales telah mendaftar untuk menyumbangkan otaknya setelah meninggal, dan sebanyak 79 sumbangan telah digunakan ke proyek penelitian otak demensia sejauh ini. Lewat penelitian ini, ilmuwan perlu mempelajari jaringan otak manusia dan untuk mengetahui otak seperti apa yang rentan terhadap penyakit alzheimer, mereka melihat distribusi deposit protein di otak, yang dianggap jadi satu-satunya cara untuk mendapatkan diagnosis pasti penyakit ini.
Sementara, untuk mencari pendonor dengan otak yang sehat lebih sulit dibandingkan dengan pendonor yang memiliki demensia. Baxter merupakan salah satu pendonor yang rela menyumbangkan otaknya setelah melihat bagaimana demensia mempengaruhi seorang temannya. Menurutnya, sumbangan otak ini adalah cara untuk membantu orang lain, tapi ia tidak selalu mendapat reaksi positif terhadap rencananya.
“Banyak orang berkata, ‘apa kamu yakin?’ dan beberapa orang merasa ngeri saat saya memberitahu mereka. Saya tidak tahu alasan mereka yang menganggap rencana saya salah,” tambahnya.
Di sisi lain, Kate Baxter, istrinya, memiliki pandangan berbeda dengan suaminya tentang sumbangan otak, tapi ia mendukung keputusan suaminya. Menurut Kate keputusan Baxter mengejutkan, tapi dirinya punya pendapat lain soal menyumbang otak.
“Mungkin keputusannya mengejutkan, tapi ini jelas berbeda dengan menyumbangkan hati atau ginjal Anda, karena itu akan menyatu dengan organ orang lain dan kemudian kembali digunakan. Sementara sumbangan otak akan digunakan tapi dengan cara yang berbeda, tidak akan masuk ke kepala seseorang,” ucap Kate.
Tidak seperti donasi organ pada umumnya, orang yang akan menyumbangkan otaknya terlebih dahulu membuat persetujuan, termasuk di Wales. Begitu selesai membuat persetujuan, mereka yang berencana menyumbangkan otak akan dikunjungi setahun sekali untuk melakukan penilaian kognitif dan menguji ingatan mereka.
Wales tidak memiliki bank otak sendiri, sehingga otak yang telah disumbangkan akan disimpan di King’s College London sampai tim di Cardiff meminta sampel. Ketika telah diterima oleh para peneliti, otak tersebut akan dipotong setengah dan setengahnya lagi dibekukan, lalu dibedah sementara bagian yang disimpan bisa digunakan lagi puluhan tahun kemudian.
(Helmi Ade Saputra)