APAKAH Anda pernah merasa pusing setelah mencium aroma parfum yang dikenakan orang yang baru saja melewati Anda?
Hal ini terbilang wajar. Sebab, pada beberapa orang ada yang memilik tingkat sensitivitas berlebih pada aroma wewangian. Dan sebetulnya, bukan hanya parfum yang dikenakan di pakaian atau tubuh, tetapi juga deterjen, pengharum ruangan, dan lain sebagainya yang mengandung fragranc.
Kalau sudah begini, sangat susah bagi Anda yang punya kesensitifan berlebih pada fragranc untuk bisa beradaptasi. Salah satu risiko yang biasanya muncul adalah nyeri kepala berlebih hingga sesak napas.
Lebih lanjut lagi mengenai masalah ini, dikutip dari Daily Mail, para ilmuwan baru-baru ini menyimpulkan bahwa bahan kimia sehari-hari, termasuk produk pembersih, parfum, dan cat, sekarang berkontribusi terhadap polusi udara lebih banyak daripada mobil.
Partikel kecil yang terkandung dalam senyawa ini dikatakan berbahaya bagi paru-paru dan tingkat konsentrasinya sepuluh kali lebih buruk di dalam rumah daripada di luar rumah.
Studi yang dipublikasikan di jurnal Science mengungkapkan bahwa produk pembersih, serta barang-barang seperti parfum dan deodoran, sekarang menyumbang hingga 50 persen polusi udara luar di kota-kota.
Anda harus sadar, aroma apapun termasuk yang bahan dasarnya dari alam, tidak lebih dari satu set bahan kimia. Dan berkat undang-undang yang melindungi rahasia dagang, produsen parfum tidak berkewajiban untuk mengungkapkan semua bahannya. Jadi berapa banyak orang yang menderita karena wewangian? Dan bagaimana dampaknya terhadap Anda?
Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa sekira 30 persen populasi dipengaruhi secara negatif oleh aroma.
Dalam survei tahun 2004 terhadap 1.000 orang, 31 persen melaporkan reaksi buruk terhadap produk fragranc. Beberapa tahun kemudian, survei lain mengkonfirmasi hasil ini.
Survei ketiga, pada 2016, menemukan bahwa hampir 35 persen orang melaporkan masalah kesehatan seperti kesulitan pernapasan dan sakit kepala saat terkena parfum. Beberapa juga melaporkan mata merah, berair, hidung tersumbat, sakit kepala, dan serangan asma.
(Baca Juga: Asal Mula Istilah Pelakor, Apa Bedanya dengan WIL?)
Selain itu, pada jumlah yang lebih kecil, ada yang mengalami masalah kulit, kesulitan kognitif seperti ketidakmampuan berkonsentrasi, dan masalah pencernaan seperti mual. Lalu, lima belas persen telah kehilangan hari kerja atau pekerjaan karena terpapar aroma di tempat kerja.
Jumlah sebenarnya dari orang-orang yang sakit karena aroma hampir pasti lebih besar dari yang ditunjukkan oleh penelitian.
(Baca Juga: Pohon Raksasa Ditemukan di Hutan Kalimantan Selatan, Besarnya Luar Biasa)