Kepala Bidang Pariwisata, Dinas Pariwisata Dan Budaya Jembrana I Nyoman Wenten saat dikonfirmasi mengatakan, pemerintah tidak perlu sampai harus membeli rumah panggung, tapi masyarakat setempat yang bisa mengelola dengan konsep manajemen desa wisata.
"Di Kabupaten Jembrana banyak terbentuk kelompok masyarakat sadar wisata yang mengelola objek wisata. Nah, masyarakat Loloan bisa membentuk kelompok sejenis untuk mengelola rumah panggung sebagai bagian program desa wisata," katanya.
Untuk mewujudkan hal itu, ia mengatakan, pihaknya siap membantu termasuk dengan pembinaan dan pelatihan, namun harus diimbangi dengan kemauan masyarakat setempat untuk menjadikan rumah panggung sebagai aset budaya dan wisata.
Kemauan dan kesadaran, itulah kunci pelestarian rumah panggung Loloan agar tidak punah dan tinggal cerita bagi generasi selanjutnya.
Kemauan dan kesadaran itu tentu bukan dalam bentuk yang absurd, tapi harus menjadi upaya konkrit baik oleh masyarakat maupun pemerintah yang bisa diawali dengan memfungsikan rumah panggung sebagai penginapan wisata.
Kebanggaan sebagai kelompok masyarakat satu-satunya di Bali yang memiliki warisan budaya rumah panggung juga harus ditanamkan dan menjadi kesadaran kolektif, karena seperti yang disampaikan H.Musadat Johar, saat ini masyarakatnya sudah tidak bangga lagi memiliki rumah panggung.
"Peran serta pemerintah memang penting, tapi yang lebih penting adalah diri kita sendiri, dengan merasa bangga tinggal di rumah panggung. Jangan tinggal apalagi membuat rumah panggung dianggap kuno, karena ini peninggalan para datuk yang harus dibanggakan," katanya.
(Muhammad Saifullah )