Akhirnya mumi El Negro kembali ke tanah airnya, namun beberapa waktu kemudian ia justru kembali dipajang di sebuah ruang pamer, hingga kemudian diakuisisi oleh Darder Museum. Mumi diberi semir lagi agar lebih hitam dan mulai sejak itulah ia dikenal oleh pengunjung sebagai El Negro.
Dalam museum, El Negro di tempatkan satu ruangan bersama kerangka gorila, kucing, dan mamalia lainnya yang diawetkan. Kehadiran El Negro lagi-lagi menuai protes, pada awal 1990-an, Alphonse Arcelin, seorang dokter asal Haiti, menulis surat yang ditujukan untuk walikota Banyoles. Surat yang ditulisnya berisi protes dan memintanya untuk melepaskan jenazah orang Afrika dari lemari kaca.
Permintaan Arcelin menarik perhatian dan mendapat dukungan dari banyak tokoh terkemuka di seluruh dunia, seperti Kofi Annan, Asisten Sekretaris Jenderal PBB, yang mengecam pameran tersebut sebagai tindakan menjijikan dan akhirnya bisa mengembalikan mumi ke Botswana. Namun, hal tersebut menimbulkan pertentangan, karena orang-orang Catalan telah sangat menyukai mumi prajurit tersebut dan enggan menyerahkannya.
Setelah berlarut-larut, baru pada Maret 1997 museum gagal mempertahankan kehadiran El Negro, akhirnya mumi disemayamkan tiga tahun kemudian. Dalam sebuah peti mati El Negro dikuburkan. Pada 5 Oktober 2000 dia disemayamkan di pemakaman Kristen di Kota Gaborone. Meskipun belum diketahui namanya, tapi mumi prajurit ini meninggal pada usia sekira 27 tahun akibat peneumonia.
(Renny Sundayani)