WABAH difteri kembali menyerang Indonesia. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria ini bahkan telah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), karena telah merunggut puluhan korban jiwa yang tersebar di 20 provinsi.
Berdasarkan data yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan, sampai dengan November 2017, setidaknya terdapat 622 kasus difteri yang berasal dari 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi. Dari ratusan korban tersebut, 32 diantaranya meninggal dunia. Untuk itu, sebelum persebaran kuman ini semakin meluas, kita juga harus cepat melakukan berbagai upaya preventif untuk menanggulangi penyakit tersebut.
Menurut Nur Afiyah, salah satu dokter di Puskesmas Cipayung, satu-satunya cara efektif untuk mencegah difteri adalah dengan melakukan vaksinasi. Pemberian vaksin ini dimaksudkan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia agar tidak mudah terkontaminasi kuman-kuman penyakit.
"Mau tidak mau harus divaksin karena wabah penyakit ini penularannya melalui udara. Berbicara secara langsung dengan pasien saja kita sudah bisa tertular," tutur Nur kepada Okezone, di Puskesmas Cipayung, Depok, Jawa Barat, Selasa (12/12/2017).
Di kota Depok sendiri setidaknya ada 12 kasus difteri yang dilaporkan sampai bulan November lalu. Dari 12 kasus tersebut, 4 orang dinyatakan positif dan 1 orang telah meninggal dunia.
Meski wabah difteri telah ditetapkan sebagai salah satu KLB, kesadaran masyarakat setempat untuk melakukan vaksinasi berkelanjutan dinilai masih kurang. Seperti diketahui, setidaknya ada 5 jenis imunisasi yang harus diberikan kepada balita sejak dini dan secara bertahap. Jenis imunisasi ini terdiri dari hepatitis B, polio, BCG, campak, dan Pentavalen (DPT-HB-HiB).
"Pelaksanaan imunisasi itu sebetulnya harus sampai pada umur 19 tahun. Untuk imunisasi rutin (hepatitis, campak, dsb) angkanya cukup tinggi dan telah mencapai 90%. Namun, untuk imunisasi lanjutan (khusus bayi berusia 18 - 24 bulan) angkanya memang sangat rendah, hanya 30% yang melakukan secara rutin," jelasnya.
Nur juga sempat menyinggung fenomena anti-vaksin yang sedang hangat diperbincangkan masyarakat Indonesia. Di kawasan Cipayung contohnya, ada salah satu sekolah yang menolak untuk memfasilitasi siswanya dalam pemberian vaksin.
Baca Juga:
"Untuk anti-vaksin sendiri Alhamdulillah tidak cukup banyak. Hanya ada 1 sekolah Islam yang menolak. Tapi Alhamdulillah murid-muridnya telah divaksin secara mandiri oleh orangtua mereka. Jadi memang hanya guru dan kepala sekolah yang tidak memfasilitasi," tukasnya.
Selain melakukan vaksinasi, Nur mengimbau masyarakat Indonesia untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Hal ini sangat penting untuk dilakukan agar tubuh terlindungi dari kontaminasi bakteri penyakit. Pasalnya, tidak hanya balita saja yang dapat terjangkit wabah difteri, orang dewasa pun memiliki kemungkinan terkontaminasi bakteri Corynebacterium diphtheria, terutama bagi mereka yang tinggal di kawasan endemis (tempat terjadinya KLB).
(Utami Evi Riyani)