DIFTERI salah satu penyakit menular yang kabarnya mulai melanda beberapa provinsi di Indonesia. Agar lebih waspada, Anda harus kenali dulu gejalanya supaya tidak menimbulkan dampak buruk bagi diri sendiri dan keluarga.
Sayangnya yang menyulitkan orang awam untuk mencegah penyakit difteri yakni gejalanya sama seperti ISPA. Karena itu, difteri sering dianggap remeh dan terlambat ditangani.
BACA JUGA:
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI dr HM Subuh, MPPM menyebutkan, gejala difteri sama dengan infeksi saluran napas akut. Tidak ada gejala khas yang mudah dikenali kalau bukan dokter yang memeriksa.
"Gejala difteri itu demam, batuk, sesak napas atau sama seperti flu. Tapi pembedanya ada bercak putih tebal di tenggorokan," papar Subuh saat ditemui di Jakarta Pusat, Senin (4/12/2017).
Adapun masa inkubasi dari penyakit ini sekira 2-5 hari. Pasien akan demam disertai dengan gejala lainnya.
Semua pasien dari berbagai kalangan, baik anak-anak, usia muda dan tua menunjukkan gejala sama bila menderita penyakit difteri.
Subuh menyebutkan, anak-anak usia 5-9 tahun paling rentan alami penyakit ini. Sementara usia paling tua yakni 45 tahun, penderitanya dari Jawa Timur.
"Difteri tidak terbatas usia. Kalau ada satu orang kena, terus tetangga atau saudaranya kena bisa juga karena kekebalan tubuhnya rendah," ungkapnya.
Kemudian, jika sudah terdeteksi difteri sebaiknya dilakukan pengobatan lebih cepat. Pasien mendapatkan obat bernama anti difteri serum (suntik) supaya mencegah penyebarannya.
BACA JUGA:
Sayangnya stok obat difteri terbatas dan kebutuhan meningkat. Namun demikian, pemerintah benar-benar mengusahakan untuk mendistribusikan obat ini dengan tepat sasaran.
"Obat difteri stoknya terbatas, kita berikan selektif, karena produksinya terbatas," tutupnya.
(Dinno Baskoro)