BACKPACKER DIARY: Colosseum Roma, Salah Satu Keajaiban Dunia dengan Arsitektur yang Memikat

Dada Sathilla, Jurnalis
Jum'at 03 November 2017 09:00 WIB
Foto: Dada/Okezone
Share :

TRAVELLING ke ibukota Italia, Roma rasanya mirip dengan berpetualang di masa lampau karena nuansa kota Roma yang kuno penuh dengan bangunan peninggalan kekaisaran Romawi. Salah satu bangunan bersejarah yang wajib dikunjungi tentunya Colosseum yang merupakan ampiteater terbesar di dunia Romawi. Dikenal sebagai arena pertarungan gladiator yang brutal dan sadis, kini Colosseum telah menjelma sebagai salah satu destinasi wisata yang paling banyak dikunjungi turis di Roma. 

Perjalanan saya di Roma dimulai dengan berputar-putar keliling kota menggunakan motor. Karena ada teman di Roma, saya tak perlu pusing baca jalur naik bus dan kereta. Roma dikenal memiliki sistem transportasi yang lumayan bagus. Jumlah kereta bawah tanahnya hanya sedikit, hal ini dikarenakan demi menjaga kelangsungan bangunan bersejarah yang masih banyak berdiri di permukaan kota tua ini.

Tak seperti kota lainnya di Eropa yang penduduknya jarang menggunakan motor, di Roma saya melihat banyak pemotor. Uniknya bukan vespa yang mereka kendarai tapi lebih banyak yang memakai skuter buatan Jepang. 

Roma terlihat indah dengan caranya sendiri. Meski tak serapi dan sebersih Amsterdam, namun Roma tetap cantik dengan bangunan cokelat pasir khas Mediterania, rumah dan gedungnya yang bergaya kuno, gereja-gereja yang bertebaran di hampir setiap sudut kota, dan bangunan bersejarah peninggalan Romawi. 

Setelah parkir sepeda motor, saya menuju ke Colosseum. Udara terasa hangat meski angin dingin musim semi masih bertiup. Colosseum terletak di kawasan Ancient Rome atau Roma Kuno. Tepatnya berada di sebelah Roman Forum dan bukit Pallatium. Meski saya tiba saat hari masih pagi, dihalaman Colosseum saya sudah melihat antrean panjang turis. 

Colosseum yang merupakan salah satu dari 7 keajaiban dunia dibangun pada tahun 72 Masehi oleh kaisar Romawi yang bernama Vespasian dari dinasti Flavian. Atas perintah Vespasian, Colosseum dibangun oleh para arsitek, seniman Romawi dan para budak Yahudi. Pembangunannya kemudian dilanjutkan oleh penerusnya yang bernama Titus hingga akhirnya diresmikan pada tahun 82 Masehi dengan kapasitas sekitar 50.000 penonton. Tak seperti ampiteater pada zaman itu yang sebagian besar berada di pinggiran kota, Coloseum dibangun di tengah kota Roma di lokasi bekas istana milik kaisar sebelumnya, Nero. Hal ini sekaligus menyimbolkan bahwa Colosseum merupakan milik rakyat Roma bukan milik kaisar saja.

BACA JUGA:

Jelmaan Superhero, Hijaber Ini Selamatkan Pria Terbakar dengan Baju Abaya

7 Proses Singkat Bikin Teh dengan Metode Cold Brew, Rasanya Lebih Mantap!

Orangtua Sibuk, Bocah SD Sewa Wanita Lain untuk Jadi Orangtuanya

Jadi Milenial Mom, Barbie Ternyata Juga Melahirkan Loh! Yuk Intip Prosesnya


Dikenal juga dengan nama Flavian Amphiteatre, Colosseum banyak digunakan sebagai pusat pertarungan gladiator, baik saat gladiator bertarung sampai mati dengan gladiator lainnya atau untuk perburuan binatang liar yang diimpor dari Afrika dan Timur Tengah seperti badak, kuda nil, jerapah, gajah, buaya hingga unta. Tak jarang para terpidana hukuman mati akan dimasukkan ke dalam arena Colosseum, tanpa busana dan tanpa senjata lalu dipaksa bertarung sampai mati dengan binatang-binatang buas itu.

Setelah Romawi runtuh, Colosseum berubah fungsi menjadi berbagai macam tempat seperti kastil, gereja kecil, pemakaman, perumahan hingga gudang. Kini Colosseum juga didedikasikan untuk memperingati Martir Kristen yang saat masa kekuasaan Romawi dibunuh oleh penguasa karena menolak menyembah dewa-dewa Romawi. Salah satunya bahkan diumpankan ke singa.

Saat Good Friday, Sri Paus melakukan prosesi jalan salib untuk memperingati kejadian ini di Colosseum.

Saat mengunjungi Colosseum, yang saya lihat hanya puing - puingnya saja, meski kerangkanya masih kokoh berdiri. Penyebabnya karena Colosseum pernah terbakar karena disambar petir, terkena gempa bumi beberapa kali dan batuannya dulu sering dicuri untuk dipakai membangun bangunan lain. Colosseum yang berdiri kini telah mengalami restorasi beberapa kali.

Meski hanya tinggal reruntuhan, nilai sejarah dari Colosseum membuat bangunan ini tetap menarik. Bagian arena dan lorong tempat memasukkan manusia dan hewan buas juga masih bisa dikunjungi turis.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya