Tidak Hanya Cegah Abrasi, Bakau Bisa Diolah Jadi Hidangan Lezat

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis
Sabtu 14 Oktober 2017 21:51 WIB
Buah mangrove (Foto: Wordpress)
Share :

SAAT ini masyarakat Indonesia hanya dikenalkan dengan dua jenis makanan karbohidrat saja yakni, beras dan teoung terigu. Padahal, kekayaan karbohidrat di Nusantara begitu beraneka rakam jenisnya. Mulai dari sagu, talas, singkong, ganyong, pisang muda, sukun muda, dan masih banyak lagi.

Selain itu, Indonesia ternyata juga memiliki beragam sumber daya alam yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Salah satunya adalah bakau. Tanaman yang sering dijadikan sebagai penangkal abrasi ini ternyata dapat diolah menjadi berbagai olahan makanan yang tak kalah lezatnya.

Hal tersebut dijelaskan secara langsung oleh Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), Susan Herawati. Berdasarkan pengakuannya, di Indonesia sendiri terdapat 3 daerah yang telah mengembangkan beberapa jenis produk makanan berbahan dasar bakau.

“Di Sumatera Utara ada dua tempat yakni di Langkat dan Sendang Bedagai. Sedangkan untuk Pulau Jawa ada di daerah Indramayu,” tutur Susan, dalam acara Panen Raya Nusantara, di Taman Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (14/10/2107).

Setiap daerah memiliki alasan tersendiri hingga akhirnya tertarik untuk memanfaatkan bakau sebagai bahan makanan layak konsumsi. Seperti di Langkat. Hutan bakau di daerah ini terpaksa dibabat habis karena industri kelapa sawit telah merambat hingga ke daerah pesisir. Sedangkan di Indramayu, para petani bakau memanfaatkan tanaman tersebut setelah terjadi ekspansi besar-besaran yang dilakukan oleh para pengusaha tambak udang.

“Produk-produk ini merupakan bentuk perlawanan terhadap 3 stigma wanita pesisir yang sering dianggap miskin, bodoh, dan kumuh. Mereka ingin membuktikan bahwa mereka juga cerdas dan bisa memanfaatkan ilmu yang ada,” tegas Susan.

Berbicara soal produk bakau atau mangrove, saat ini setidaknya ada beberapa jenis makanan yang diolah menggunakan tanaman dari marga rhizophora itu. Mulai dari keripik, syrup, kecap, hingga obat-obatan dan produk kosmetik. Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, produk bakau ini semuanya diolah para wanita pesisir.

“Mereka mengolahnya juga tanpa bahan pengawet, sehingga kualitas dan khasiat kesehatannya sangat baik meski daya tahan produk tidak terlalu lama. Biasanya setelah 6 bulan, produk akan diganti dengan stok yang baru. Harganya pun relatif murah, untuk keripik dijual seharga 10 ribu, sedangkan syrup dan kecap dibanderol Rp50 ribu,” tukas Susan.

(Helmi Ade Saputra)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya