Museum-Museum Ini Menjadi Saksi Bisu Perjuangan Bangsa Indonesia Melawan Penjajah

Tiara Putri, Jurnalis
Jum'at 13 Oktober 2017 12:51 WIB
Ford Vredeburg (Foto: Ist)
Share :

TAHUKAH Anda bahwa setiap tanggal 12 Oktober diperingati sebagai Hari Museum Nasional? Coba hitung kira-kira sudah berapa kali Anda mengunjungi museum. Tak usah jauh-jauh, cukup tahun ini saja. Jika jumlahnya masih kurang dari sepuluh, rasanya Anda perlu memasukkan museum ke daftar tempat yang ingin dikunjungi.

Tidak ada salahnya kok jika Anda mengunjungi museum. Sebab banyak hal yang bisa didapatkan. Selain menemukan spot foto menarik, Anda bisa sekalian belajar mengenai benda-benda yang ada di museum. Hampir keseluruhan benda di museum adalah benda-benda bersejarah. Bahkan banyak museum di Indonesia yang sebenarnya adalah saksi perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah.

Dikutip dari berbagai sumber, Jumat (13/10/2017) inilah sebagian kecil museum yang berisikan sejarah perjuangan kemerdekaan.

Museum Sumpah Pemuda

Bagi Anda yang tinggal di Jakarta, tahukah di mana museum ini berada? Museum ini berada di Jalan Kramat Raya No. 106. Dulunya museum ini adalah bekas rumah Sie Kong Liong yang pernah disewa dan dijadikan asrama oleh pelajar pribumi. Para pelajar dan pemuda sering mengadakan pertemuan di tempat ini untuk menyusun pergerakan, pembentukan semangat, sendi-sendi dasar persatuan, dan diskusi politik.

Museum Benteng Vredeburg

Terletak di Jalan Ahmad Yani, Yogyakarta, museum ini awalnya dibangun oleh Belanda untuk mengawasi gerak-gerik Keraton Yogyakarta. Maka tak heran jika pada jaman penjajahan Belanda, Museum Benteng Vredeburg dijadikan pusat pemerintahan. Keadaan berubah saat Jepang menjajah Indonesia. Benteng ini menjadi tempat tawanan bagi masyarakat Indonesia dan Belanda yang menentang pemerintah Jepang.

Lubang Jepang

Jika Anda berkunjung ke Padang, cobalah mampir sebentar ke Taman Panorama. Di dalam taman tersebut ada sebuah lubang yang menjadi saksi bagaimana pemerintah Jepang mempekerjakan secara paksa orang-orang yang berasal dari Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi untuk membangun beberapa lorong kecil sepanjang 6 km. Banyak para pekerja yang meninggal akibat kerja paksa. Selain itu, lubang ini juga menjadi tempat tawanan untuk masyarakat yang menentang pemerintah Jepang. Tak sedikit tubuh tahanan yang tewas dipotong-potong untuk selanjutnya dibuang ke lorong kecil lainnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya