BERBEKAL buku panduan wisata Paris dan peta yang ditulis tangan oleh teman saya yang tinggal di Paris, Jadilah saya menjelajah Paris seorang diri. Karena saya tinggal di kawasan Montmartre, destinasi pertama yang saya kunjungi adalah Sacre Coeur yang juga berada di kawasan ini.
Udara masih dingin saat musim semi di Paris. Tapi tak sedingin Amsterdam, lebih hangat dan tanpa angin kencang.
Dari stasiun metro Anvers saya berjalan mendaki bukit menuju Sacre Coeur. Di kanan kiri jalan berjejer toko suvenir menjual cinderamata seperti magnet kulkas, kaos, mug dan snowball. Saat saya dekati ternyata suvenir - suvenir ini produk buatan Tiongkok. Penjualnya juga beberapa berwajah Asia. Ada pula kios - kios yang menyediakan lukisan.
Jalanan sempit menuju Sacre Coeur terlihat cantik dan bersih diapit oleh rumah - rumah dan apartemen bergaya klasik Prancis. Jalanan menanjak sempat membuat saya terengah- engah. Setelah mendaki dan naik tangga selama 15 menit sampailah saya di puncak bukit dimana Sacre Coeur berada.
(Baca Juga: Keren! Bus Wisata Wonderful Indonesia Keliling Kota Paris)
Teringat pesan teman saya agar tak menghiraukan tawaran para scammers di sekitar Sacre Coeur, saya mantap melaju ke bagian depan gereja untuk mengantre. Karena Sacre Coeur termasuk destinasi wisata utama di Paris, sejak pagi area ini telah dikerubungi turis dan juga para penjual cinderamata. Beberapa lelaki Bangladesh menawari saya selfie stick namun saya tolak karena memang tak butuh. Untungnya mereka tak memaksa membeli.
Saat naik ke tanjakan depan pintu gerbang, kembali saya didekati segerombolan lelaki kulit hitam. Mereka membawa cincin sambil memeragakan memasukkan jari ke dalam cincin. Saya mengerti maksudnya. Mereka ingin saya melakukannya.
Untungnya teman Paris saya telah menginfokan hal ini sebelum saya berangkat. Gerombolan lelaki kukit hitam di Sacre Coeur ini scammers. Mereka akan minta setiap turis memasukkan jari ke dalam cincin dan menginfokan hal ini sebagai ritual sebelum masuk ke Sacre Coeur. Tapi setelah itu mereka akan minta bayaran beberapa euro. Berkat info ini saya lolos dari para scammers. Setelah menolak dengan tegas saya masuk ke Sacre Coeur.
Karena saat itu masih pagi sekira pukul 09.00, antrean tak begitu panjang dan setelah tas saya diperiksa oleh petugas keamanan, saya bisa masuk ke dalam basilika Sacre Coeur.
Pengamanan di Sacre Coeur terbilang wajar dan prosesnya cepat. Jauh bila dibandingkan dengan pemeriksaan di St. Peter Basilika Vatikan yang sangat teliti dan makan waktu hingga 1 jam.
Basilika Sacre Coeur merupkan gereja Katolik Roma bergaya arsitektur Roman Byzantine. Bangunan cantik berkubah ini terletak di butte Montmartre, titik tertinggi di kota Paris. Sacre Coeur berukuran lumayan luas, dengan dinding batu berwarna abu gelap.
(Baca Juga: Tak Hanya Menara Eiffel, Berikut 5 Spot Jalan Kaki yang Asyik di Paris)
Di bagian dalam kubahnya ber-fresco dengan lukisan bertema relijius. Saat saya mengunjungi Sacre Coeur, rupanya sedang ada misa. Tentunya hal ini menjadi kesempatan bagi turis untuk menyaksikan kegiatan di dalam salah satu landmark Paris.
Sebenarnya pengunjung tak diperbolehkan memotret apalagi merekam di dalam Sacre Coeur, namun karena turis - turis lain melakukannya, jadilah saya mencuri beberapa foto di dalam basilika. Selain mengunjungi bagian dalam, para pengunjung juga bisa naik ke atap untuk menyaksikan view kota Paris dari titik tertinggi.
Selain naik ke atap, dari halaman Sacre Coeur pun bisa melihat keindahan kota Paris yang terkenal dengan suasananya yang romantis. Sacre Coeur yang berada di 35 Ru du Chevalier de la Barre, Paris bisa dikunjungi dengan gratis.