DI era globalisasi, rupanya masih ada hambatan mendasar dalam peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia, yakni minat baca pada anak-anak di Indonesia masih rendah. Padahal kita tahu, generasi penerus bangsa perlu mempersiapkan diri untuk menyongsong era globalisasi yang mana persaingan dalam berbagai hal terbilang ketat.
Berdasarkan studi "Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.
Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Selain itu, Programme for International Student Assessment (PISA) menyebut budaya literasi masyarakat Indonesia terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia, Indonesia menempati urutan ke-64 dari 65 negara tersebut.
PISA menyebutkan, tidak ada satu siswa pun di Indonesia yang meraih nilai literasi atau kemampuan mengolah informasi saat membaca dan menulis di tingkat kelima, hanya 0,4 persen siswa yang memiliki kemampuan literasi tingkat empat. Selebihnya di bawah tingkat tiga, bahkan di bawah tingkat satu.
UNESCO menjelaskan bahwa kemampuan literasi merupakan hak setiap orang dan merupakan dasar untuk belajar sepanjang hayat. Kemampuan literasi dapat memberdayakan dan meningkatkan kualitas individu, keluarga, masyarakat.