Menurutnya, penduduk sekitar berasal dari etnik minoritas seperti Miao dan Buyi. Struktur bangunan yang digunakan pun dapat dibilang masih mentah, karena tidak dicampur dengan bahan-bahan bangunan yang tersedia di toko.
“Pekerjaan mereka dilakukan dengan cara yang natural. Tidak mengikuti aturan (bangunan modern). Seperti lukisan anak-anak,” ujar Peilun.
Peilun sendiri fokus pada urbanisasi di sekitarnya. Ia ingin kastilnya dapat bertahan lama dan membawa pesan untuk generasi masa depan.
(Vien Dimyati)