BUKANLAH Indonesia jika tidak memiliki kebudayaan yang unik. Kebudayaan tersebut salah satunya berupa upacara yang terbilang khas dan tiap daerah memiliki ciri sendiri berbeda dengan daerah lainnya.
BACA JUGA
Bertepatan dengan malam tahun baru Islam yang jatuh pada satu Muharram, masyarakat yang ada di Bengkulu dan pantai barat Sumatera Berat menyenggarakan upacara tabot. Upacara tersebut telah mereka selenggarakan secara rutin tiap tahunnya dan turun temurun.
Upacara Tabot diselenggarakan tepatnya pada hari Asyura, yakni pada 10 Muharram. Dalam upacara Tabot, masyarakat memperingati kematian cucu Nabi Muhammad yang bernama Husein.
Melansir dari laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Rabu (20/9/2017), upacara tabot pada masyarakat Minang disebut dengan Tabuik yang berasal dari kata Tabut, karena perbedaan dialek atau penyebutan. Padahal, masih memiliki makna yang sama.
Tabut atau Tabuik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya sebuah peti yang terbuat dari anyaman bambu yang diberi kertas berwarna, kemudian dibawa arak-arakan pada hari peringatan Hasan dan Husein pada 10 Muharram. Dan, kini upacara iring-iringan tersebut menjadi upacara yang masuk dalam agenda tahunan tradisi yang akan diselenggarakan tiap tahunnya pada 1 hingga 10 Muharram.
Pada masyarakat Minang, Tabuik atau Tabut merupakan sebuah keranda mayat yang diibaratkan sebagai keranda pengusung mayat Husein Bin Ali yang terbuat dari bambu, kayu, rotan yang dihiasi bunga-bunga salapan. Lebih lanjut, seperti yang terdapat dalam laman Kemdikbud, pada bagian bawah keranda terdapat seekor burung Buraq dan di bagian atasnya terdapat satu tangkai bunga salapan yang disebut puncak Tabuik.