Jalan Roda, Salah Satu Tempat Ngopi Tertua di Kota Manado

Subhan Sabu, Jurnalis
Rabu 06 September 2017 11:52 WIB
Kopi (Foto: Shutterstock)
Share :

Kota Manado dahulunya terkenal dengan nama wenang. Di wenang ini terdapat satu kawasan yang bernama jalan roda atau jarod. Sejak jaman dulu, bahkan sebelum perang dunia I dan II, tempat ini menjadi titik kumpul dari warga masyarakat Minahasa, baik dari Tomohon, Tonsea, Tanawangko, dan Wori yang datang ke Wenang untuk menjual bahan-bahan hasil bumi.

Disebut jalan roda karena masyarakat Minahasa yang datang berjualan di tempat ini menggunakan alat transportasi roda pedati atau gerobak yang ditarik oleh sapi atau kuda.

Jalan roda pada waktu itu berfungsi sebagai stasiun roda atau pedati dan merupakan tempat berjualan bahan-bahan hasil bumi karena lokasinya berdekatan dengan pasar besar pada kala itu yaitu pasar Minahasa.

BACA JUGA:

Lokasi ini menjadi tempat interaksi antara orang Minahasa yang dahulu disebut orang gunung karena umumnya mereka tinggal di dataran tinggi. Orang gunung ini mulai berinteraksi dengan warga lokal Wenang yang kala itu telah terdiri dari multikultural, ada orang Minahasa, Sanger, Gorontalo, Tionghoa, Arab, penganut Islam, Kristen, Budha, Konghucu. Dari sinilah diyakini bahasa atau dialek Manado tercipta dari percampurbauran bahasa berbagai etnis, suku dan ras.

Ramainya stasiun roda tempo itu membuat bisnis pendukung pun tumbuh. Sekitar 1950-an, sudah ada penginapan. Di penginapan inilah, orang-orang dari luar kota menginap. Bisnis warung makan dan kedai kopi pun mulai bermunculan.

Seiring perkembangan jaman, tempat ini berkembang menjadi kawasan pertokoan pusat kota pasar 45. Pasar Minahasa pun berubah menjadi shopping center. Keberadaan Jarod diantara gedung-gedung pertokoan sendiri masih tetap dipertahankan hingga kini.

Dari yang hanya berupa jalan roda, sampai jalan bebatuan, kini lantai jarod sudah bertegel, diberi atap memanjang memenuhi seluruh area. Puluhan rumah kopi dan rumah makan berjejer rapi. Meja kayu sederhana berukuran 1×2 meter, dipadukan dengan kursi plastik warna-warni ditata rapi di sisi kiri dan kanan, sehingga ada area kosong di antaranya sebagai tempat lalu lalang pengunjung.

"Di sini merupakan tempat berkumpul orang-orang dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, calo, makelar, para seniman, budayawan, jurnalis, pebisnis, bahkan anggota dewan," ujar Firdaus Syam (55), warga Karame yang sehari-harinya ngopi di Jarod saat ditemui Okezone, belum lama ini

Semua kalangan dan profesi gampang ditemui di sini. beragam topik pembicaraan mulai dari soal kecil sampai yang sangat serius, dari topik bisnis kecil-kecilan, soal-soal politik, isu lokal sampai nasional pun, seru dikupas tuntas di sini.

"Banyak yang datang ngopi sembari berdiskusi di sini, banyak ide-ide dan bahkan keputusan politik lahir di sini, sehingga masyarakat menjuluki Jarod sebagai DPRD Tingkat III," lanjut Syam.

BACA JUGA:

Kawasan ini juga menjadi tempat sosialisasi program-program pemerintah kota. Para calon kepala daerah dan calon legislatif pun selalu menyampaikan visi misi dan gagasannya di sini.

Kopi yang disuguhkan di sini bukanlah kopi mewah, hanyalah kopi bubuk biasa, tapi yang membedakannya adalah pada cara seduhnya yang dijerang dalam saringan kain yang diletakkan dalam ceret kuningan, dan dipanaskan di atas bara arang sampai kopinya matang.

"Kopi disini rasanya unik, beda dengan kopi-kopi di tempat lain," lanjut Syam.

Ada yang unik dan menarik sekaligus menjadi ciri khas jika ngopi ditempat ini. Di kawasan ini ada istilah "kopi stengah," (Kopi Setengah), artinya kopinya sedikit saja atau hanya setengah gelas. Harga secangkir kopi penuh di sini Rp7 ribu, Anda bisa beli setengah yang harganya tentu hanya Rp3.500, itupun bisa meminta tambah air panas dan gula, kopi jadi secangkir penuh, namun bayarannya tetap setengah harga.

Selain sajian kopi, makanan lainnya seperti tinutuan, rica roa, pisang goreng goroho, mie cakalang dengan harga yang sangat murah dan dijamin halal. Anda juga bisa menikmati hiburan musik menampilkan penyanyi-penyanyi yang tak kalah seperti tempat hiburan cafe.

Bisnis Kafe modern berkembang pesat di Manado, namun kesederhanaan dan keunikan Jarod masih tetap bertahan hingga kini. Meski sudah banyak toko-toko maupun pasar moderen yang bermunculan di Kota Manado, namun kawasan ini merupakan pusat bisnis tertua dan masih yang tersibuk di Manado hingga sekarang ini.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya