HARI Raya Idul Adha yang dibarengi dengan ibadah kurban, selalu mengingatkan umat Islam dengan sosok Nabi Ibrahim AS. Sosok yang dijuluki bapak para nabi ini memang begitu istimewa di mata Allah SWT. Dalam Alquran namanya disebut sebanyak 69 kali.
Ibrahim AS dikenal dengan ketaatannya kepada Allah SWT. Salah satu yang paling membuat Allah SWT makin cinta kepadanya, hingga mendapat julukan Kholilullah (Kekasih Allah) adalah ketika diperintahkan menyembelih putranya, Ismail AS. Ibrahim melakukannya dengan penuh keikhlasan.
Perjalanan hidup Nabi Ibrahim selalu memberikan banyak nilai penting. Seperti iman, takwa, sabar, ikhlas dan taat. Ibrahim lahir pada 2510 sebelum Hijriah di Iraq. Beliau wafat pada usia 175 tahun.
Bila tempat kelahiran Ibrahim sangat jelas letaknya, namun tidak dengan lokasi wafatnya. Sebab terdapat dua tempat yang dipercaya sebagai makam Ibrahim. Salah satunya di Makkah.
Baca Juga: IDUL ADHA 2017: Bolehkah Berkurban di Daerah yang Jauh dari Tempat Tinggal?
Banyak orang mengatakan bahwa makam beliau terletak di dekat Ka’bah. Tepatnya tidak jauh dari Multazam, tempat umat Islam banyak berdoa jika melaksanakan ibadah haji.
Di sana terdapat jejak kaki Ibrahim di sebuah batu dengan kedalaman berukuran 10 cm, pajang 27 cm, dan lebar 14 cm. Batu tersebut digunakan Ibrahim berpijak ketika memanjat bangunan Ka’bah yang lebih tinggi.
Alasan orang menyebut jejak kaki tersebut merupakan makam Ibrahim mungkin diperkuat dengan firman Allah SWT di surah Al-Baqarah ayat 125.
“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian makam Ibrahim tempat salat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud." (QS. Al-Baqarah :125).
Dalam ayat tersebut tertera kata-kata “makam Ibrahim” yang dijadikan tempat salat, yaitu Ka’bah tempat orang berhaji. Kemungkinan ayat itulah yang membuat orang berasumsi bahwa jejak kaki Ibrahim merupakan makamnya sekaligus.
Namun, dalam tafsir ayat ini, penjelasan sebenarnya ialah “(Dan ketika Kami menjadikan Baitullah itu) yakni Kakbah (sebagai tempat kembali bagi manusia) maksudnya tempat berkumpul dari segenap pelosok (dan tempat yang aman) maksudnya aman dari penganiayaan dan serangan yang sering terjadi di tempat lain.
Sebagai contohnya pernah seseorang menemukan pembunuh bapaknya, tetapi ia tidak mau membalas dendam di tempat ini, (dan jadikanlah) hai manusia (sebagian makam Ibrahim) yakni batu tempat berdirinya Nabi Ibrahim a.s. ketika membangun Baitullah (sebagai tempat salat) yaitu dengan mengerjakan salat sunah tawaf di belakangnya.
Menurut satu qiraat dibaca 'wattakhadzuu' yang artinya, dan mereka menjadikan; hingga menjadi kalimat berita. (Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail) (yang bunyinya) ("Bersihkanlah rumah-Ku) dari berhala (untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf) artinya yang bermukim di sana (orang-orang yang rukuk dan orang-orang yang sujud!") artinya orang-orang yang salat.”
Maka, berdasarkan tafsir tersebut, kata “sebagian makam” bukanlah kuburan, tempat di mana jasad Ibrahim dimasukkan ke dalam tanah. Lalu, di manakah makan Ibrahim yang sebenarnya?
Makam Ibrahim yang sebenarnya terletak kota Hebron, Palestina. Dalam bahasa Arab Hebron berarti Al-Khalil, gelar yang disematkan kepada Nabi.
Makam Ibrahim berada di Tepi Barat kota Hebron, sekitar 30 meter dari selatan Yerusalem. Makam Ibrahim berada di sebuah gua, Gua Makhpela atau Machpelah atau Makfilah. Bangunan gua ini menyerupai masjid, sehingga disebut Masjid Ibrahim.
(Vien Dimyati)