Di sana terdapat jejak kaki Ibrahim di sebuah batu dengan kedalaman berukuran 10 cm, pajang 27 cm, dan lebar 14 cm. Batu tersebut digunakan Ibrahim berpijak ketika memanjat bangunan Ka’bah yang lebih tinggi.
Alasan orang menyebut jejak kaki tersebut merupakan makam Ibrahim mungkin diperkuat dengan firman Allah SWT di surah Al-Baqarah ayat 125.
“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian makam Ibrahim tempat salat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud." (QS. Al-Baqarah :125).
Dalam ayat tersebut tertera kata-kata “makam Ibrahim” yang dijadikan tempat salat, yaitu Ka’bah tempat orang berhaji. Kemungkinan ayat itulah yang membuat orang berasumsi bahwa jejak kaki Ibrahim merupakan makamnya sekaligus.
Namun, dalam tafsir ayat ini, penjelasan sebenarnya ialah “(Dan ketika Kami menjadikan Baitullah itu) yakni Kakbah (sebagai tempat kembali bagi manusia) maksudnya tempat berkumpul dari segenap pelosok (dan tempat yang aman) maksudnya aman dari penganiayaan dan serangan yang sering terjadi di tempat lain.
Sebagai contohnya pernah seseorang menemukan pembunuh bapaknya, tetapi ia tidak mau membalas dendam di tempat ini, (dan jadikanlah) hai manusia (sebagian makam Ibrahim) yakni batu tempat berdirinya Nabi Ibrahim a.s. ketika membangun Baitullah (sebagai tempat salat) yaitu dengan mengerjakan salat sunah tawaf di belakangnya.