Lebih berbahaya lagi jika anak-anak sudah merasa nyaman atau asik sendiri dengan gadget sehingga, menjadi tidak peduli dengan lingkungan luar. Dari situ indera perasa dan kepekaan tidak terbentuk.
"Tidak memiliki rasa empati pada lingkungan, tidak peka terhadap apa yang terjadi di sekitar. Dampaknya anak tidak memiliki kemampuan bergaul. Ini tentu berbahaya untuk pertumbuhannya di masa depan. Sebab suatu hari anak akan memasuki lingkungan real di mana mereka harus berinteraksi langsung dengan manusia," jelasnya.
Sementara itu, bahaya lain dari gawai dipaparkan oleh Fibriyani Elastria, Consumer Product Marketing Google Indonesia adalah dari sisi konten. Di mana terdapat konten yang tak seharusnya dilihat anak.
"Video-video yang dibungkus dengan judul tonton untuk anak terkadang masih membuat tayangan orang dewasa. Kontennya pun membuat orangtua ngeri," kata Fibri.
Kalau anak dibiarkan punya gadget sendiri, dikhawatirkan konten-konten negatif tersebut datang tanpa tersaring. Seperti kekerasan, narkoba, bully, hingga video porno.
(Renny Sundayani)