Kuat dan Tegar! 5 Kisah Anak Pemberani Pengidap Kanker Paling Mengharukan

Tiara Putri, Jurnalis
Minggu 23 Juli 2017 20:30 WIB
Rett Cavan menderita kanker hati (Foto: Thsun)
Share :

HAMPIR semua orang tidak ingin menderita penyakit, terlebih kanker, penyakit ganas yang masih menjadi salah satu penyebab kematian utama di dunia. Hal yang memilukan, kanker bisa menyerang semua usia, termasuk anak-anak dan balita.

Kanker seketika bisa merampas masa-masa kecil anak yang harusnya dipenuhi dengan bermain riang gembira. Terbaring di rumah atau rumah sakit untuk pengobatan, dan kemoterapi harus mereka dijalani, meninggalkan teman-temannya di taman bermain.

Raut muka yang tetap penuh senyum membuat orangtua mereka tidak kuasa membendung air mata kala akhirnya ajal menjemput. Semangat dan ketegaran mereka melawan kanker seolah menjadi pelecut orang-orang dewasa untuk terus menjalani hidup, sesulit apapun kondisinya.

Untuk itu, dalam rangka memeringati Hari Anak Nasional, berikut 5 kisah anak pemberani pengidap kanker paling mengharukan yang dirangkum Okezone dari berbagai sumber:

1. Kisah bocah berjuang melawan kanker otak, Jantung sempat berhenti berdetak

Berjuang melawan kanker bukanlah sesuatu yang mudah. Selain harus menahan sakit karena tindakan penanganan, biaya pengobatan kanker tidaklah murah. Banyak orang yang meninggal lebih cepat lantaran tidak memiliki uang yang cukup untuk menjalani pengobatan. Kejadian itu hampir menimpa pasangan Leichelle dan Phillip Smith.

Beruntung, kedunya mendapatkan bantuan dari Kids and Cancer Motorcylce Benefit Run. Mereka menerima sejumlah dana untuk mengobati anak laki-laki mereka yang terkena kanker otak. Anak laki-laki Leichelle dan Phillip yang bernama Westen Smith kini telah berusia 2,5 tahun. Tahun lalu, saat usianya lebih dari setahun, Westen didiagnosis memiliki tumor di batang otaknya.

Leichelle merasa sangat terkejut karena tidak pernah mengalami permasalahan berarti saat mengandung maupun melahirkan. Setelah berjalan beberapa bulan setelah melahirkan, Leichelle mulai merasa kepala anaknya miring ke belakang. Akhirnya, ibu dua anak itu membawa Westen untuk menjalani tes neurologis.

(Foto: Bradfordera)

Dari hasil tes diketahui bahwa ada tumor di batang otak Westen dan perlu dilakukan pembedahan untuk mendapatkan jaringan agar bisa dilakukan biopsi. Sayangnya, saat melakukan pembedahan Westen mengalami masalah yaitu jantungnya berhenti berdetak sehingga harus menerima bantuan transfusi darah dari ibunya.

Setelah keadaan Westen kembali normal dan stabil, ahli bedah meletakkan kasa steril yang sudah dikemas di dalam kepalanya. Seminggu kemudian, kasa dikeluarkan dari kepala Westen dan dokter mengatakan dirinya tidak yakin betul bahwa tumor yang ada di batang otak Westen adalah kanker. Hal itu membuat Westen tidak mendapatkan biopsi.

Tapi, Westen tetap harus menjalani latihan fisik dan berbicara 2 kali seminggu. Selain itu, Westen harus menjalani MRI setiap 6 bulan sekali untuk memastikan kondiisinya pascaoperasi. Akibat banyaknya perjalanan yang harus dilakukan ke rumah sakit, orangtua Westen mengalami masalah keuangan karena kehilangan pekerjannya. Terlebih mereka masih memiliki seorang anak perempuan yang berusia 8 tahun.

Di tengah kebingungan yang melanda, datanglah bantuan dana yang bersedia membayar hipotek dan pembayaran mobil. “Pembayaran ini sangat membantu pihak keluarga. Terlebih mereka mau membantu lebih jauh apabila ada hal lain yang dibutuhkan,” papar Leichelle seperti yang dikutip dari Bradford Dera.

2. Ketegaran bocah pengidap kanker Rhabdomyosarcoma

Tumbuh menjadi anak yang riang dan selalu tersenyum, siapa sangka anak ini mengidap penyakit yang sangat serius. Di saat anak lain seusianya menghabiskan waktu di taman bermain, Jaivier Hickson harus bertempur melawan kanker pada anak kecil yang jarang terjadi. Jaivier didiagnosis menderita kanker rhabdomyosarcoma di saat usianya baru menginjak 4 tahun.

Rhabdomyosarcoma adalah jenis kanker yang hanya menyerang satu dari 12.000 anak di bawah usia 15 tahun. Sel kanker ini tumbuh di jaringan lunak tubuh. Ibu Jaivier, Tina Hackson mengatakan, awalnya putra kecilnya itu mulai mengeluhkan sakit perut. Keluhan Jaivier adalah indikasi pertama yang membuat Tina merasa ada yang tidak beres dengan anaknya. Sebab, sakit perut terus berlangsung hingga malam hari dan menyebabkan Jaivier mudah tersinggung, terbelalak, dan merasa berputar.

(Foto: Dailytelegraph)

Keesokan harinya, Tina membawa putranya ke dokter keluarga di Lethbridge Park. Dokter itu langsung membawa Jaivier ke Mt Druitt untuk melakukan pemeriksaan ultrasound. Dari hasil scan ditunjukkan bahwa ada penyumbatan di usus Jaivier. Hasil itu langsung dikirim ke rumah sakit anak di Westmead. Setelah dua hari dianalisis dan melakukan sejumlah pengujian, bocah kecil itu dikonfirmasi menderita kanker.

Tina memiliki 6 orang anak dan tiga anak tertuanya menangis histeris saat mengetahui keadaan adik kecilnya. “Saya sendiri sangat terkejut dengan diagnosis itu dan tidak ingin memercayainya,” tutur Tina seperti yang dikutip dari Daily Telegraph.

Usai didiagnosis, kondisi Jaivier mengalami kemunduran. Dia harus berbaring di tempat tidur selama berhari-hari dan hanya bisa tidur. Apabila terbangun, bocah yang terobsesi dengan Paw Patrol itu selalu muntah. Jaivier juga mengalami kesulitan bernafas. Perubahan lain juga terlihat di tubuh Jaivier yang semakin kurus dan rambutnya yang menipis. Padahal, dia masih harus menjalani perawatan kemoterapi 45 minggu lagi.

Ahli onkologi anak-anak yang menangani Jaivier, profesor Stewart Kellie mengatakan, kanker Jaivier tidak memengaruhi organ lain tapi bisa menyebar ke sumsum tulang atau paru-paru. “Pengobatan yang dilakukan terdiri dari operasi, kemoterapi, dan radioterapi. Pengobatan itu bisa menyembuhkan rhabdomyosarcoma secara permanen dan hasilnya terus membaik,” tutur profesor Kellie. Rhabdomyosarcoma hanya menyumbang sekitar 5% dari semua jenis kanker yang ditangani oleh rumah sakit anak tempat Jaivier di rawat.

3. Baru berusia 3 tahun, Greta harus berjuang melawan kanker hati dan paru-paru

Ibu mana yang tega melihat anak yang dilahirkannya menderita penyakit serius termasuk Lindsey Marofke. Dia melakukan berbagai cara agar putri kecilnya, Greta Marofke mendapatkan transplantasi hati supaya bisa sembuh dari penyakitnya. Greta yang berusia 3 tahun didiagnosis mengidap kanker hati masa kecil yang langka saat umurnya masih 12 bulan.

Pada awalnya Greta tidak bisa melakukan transplantasi di Kanada karena tidak memenuhi syarat. Lindsey pun memutuskan untuk memindahkan Greta ke rumah sakit lain anak-anak di Cincinnati, Ohio untuk menjalani perawatan. Tiga bulan kemudian, setelah memiliki hati yang baru, Lindsey mengajak Greta untuk menghabiskan waktu selama seminggu di sebuah kemping perkemahan.

(Foto: Metronews)

Greta terlihat sangat menikmati kegiatan itu dan bisa melupakan masalah kanker serta transplantasi sejenak.  “Ada kegembiraan pada diri saya saat melihat Greta bisa menjadi seperti anak-anak lain. Tapi saya tahu perjalanan ini masih panjang. Kami masih harus mendaki gunung yang ada di belakang tubuh Greta,” ungkap Lindsey seperti yang dikutip dari Metronews.

Tiga bulan kemudian setelah menjalani transplantasi hati, masalah baru muncul. Greta diketahui memiliki kanker di paru-parunya. Setelah mengetahui keadaan putrinya, Lindsey masih berharap putrinya akan selamat. Greta saat ini tengah menjalani kemoterapi dan akan melakukan pemindaian dalam waktu dekat untuk melihat perkembangan bintik-bintik di paru-parunya. Apabila bintik-bintik di paru-paru belom menghilang, orangtuanya memutuskan agar Greta dioperasi.

Berkat kemping yang diikutinya, Greta kini lebih berenergi untuk menjalani pengobatan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. “Kami akan terus berusaha dan melawan penyakit ini bersama. Memang ada hari di mana saya sebagai orangtua merasa mengalami kesulitan. Namun setelah melihat wajahnya, saya terus berusaha untuk mendapatkan pengobatan yang terbaik untuk anak saya,” papar Lindsey.

Lindsey bersyukur banyak masyarakat yang membantunya untuk proses pengobatan anaknya. Dana yang akan dikumpulan rencananya berjumlah hingga mencapai $600.000. Lindsey juga meminta menteri kesehatan agar membuat suatu keputusan menggunakan wewenangnya untuk membantu biaya perawatan Greta. “Masyarakat yang telah membantu kami benar-benar fenomenal. Semoga kami bisa mendapatkan dukungan yang sama dari politisi,” ujar Lindsey.

4. Eva, bocah pengidap kanker neuroblastoma selalu membuat orang tersenyum

Kanker adalah salah satu penyakit penyebab utama kematian. Kanker bisa menyerang siapa saja tanpa memandang usia, jenis kelamin, dan golongan. Anak-anak sekali pun bisa terkena kanker di saat usianya masih muda. Jenis kanker yang mungkin dialami anak-anak adalah kanker neuroblastoma.

Seorang gadis kecil bernama Eva Bevan harus merenggang nyawa karena kanker neuroblastoma. Eva didiagnosis menderita kanker pada usianya yang menginjak 7 tahun. Gadis yang kuat, cantik, dan lucu itu pada awalnya mengeluhkan sakit di pinggulnya. Lalu tiba-tiba, Eva mulai lemas dan tidak bisa berdiri tegak di lantai. Eva lantas dibawa ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan.

(Foto: Walesonline)

Setelah dilakukan pemeriksaan yang meliputi tes darah dan pemindaian MRI, hasilnya menunjukkan ada pembengkakan luas di pinggulnya akibat tumor. Saat itu Eva baru berumur 6 tahun dan langsung dipindahkan ke rumah sakit lain untuk menjalani biopsi. Dua minggu kemudian, Eva melakukan kemoterapi pertamanya.

“Dia benar-benar aktif dan mendengarkan semua percakapan tentang perawatan yang harus diterimanya. Padahal, dia baru saja menerima kenyataan bahwa dia sakit parah. Beberapa kali dia memutar matanya padaku dan menyuruhku berhenti menangis,” ungkap ibu Eva, Lauri Cowdell seperti yang dikutip dari Wales Online.

Lauri memuji anaknya sebagai anak yang pemberani dan kuat. Sebab Eva harus menjalani 3 jenis kemoterapi yang berbeda dan operasi pengangkatan tumor. Kedua tindakan itu membuat Eva merasa sakit, tapi Eva tidak berhenti tersenyum dan membuat orang lain tertawa. Menurut Lauri, gadis kecilnya memiliki selera humor yang tinggi.

“Dia bisa membuatku tertawa sepanjang waktu. Bahkan saat dia kehilangan rambutnya, dia suka bercanda dengan bilang menyukai tampilan botak,” tutur Lauri.

Tapi sayangnya, setelah berjuang 15 bulan untuk melawan kanker, Eva harus meninggal pada 25 Mei 2017. Hal itu disebabkan karena sel kanker tidak bisa dikeluarkan dari sumsum tulangnya dan telah menyebar ke tulang belakang serta paru-parunya.

Karena putrinya sangat mencintai kehidupan, usai kematian Eva, Lauri mengumpulkan uang amal untuk anak-anak yayasan Latch. Keluarga Eva juga menyiapkan akomodasi dan perjalanan liburan yang semua biayanya ditanggung oleh pihak keluarga.

“Kami pergi ke Cadbury World dan melanjutkan liburan. Sepanjang masa-masa sulit karena kehilangan Eva, kami bisa menciptakan kenangan indah,” pungkas Lauri.

5. Bayi laki-laki menghabiskan separuh hidupnya di RS karena kanker hati

Seorang ibu membagikan kisah perjuangan anaknya yang harus melawan kanker dalam sebuah foto. Dia melakukan itu karena rasa solidaritas dan ingin memberikan dukungan kepada orangtua lain yang juga harus mendampingi anak mereka yang terkena kanker. Ibu yang bernama Deana itu berani membagikan kisahnya dua tahun setelah kematian anaknya.

Deana berasal New Hampshire, Amerika Serikat. Di tahun 2015, dia harus menerima kenyataan bahwa anak lelakinya, Rett Cavan menderita kanker hati. Dalam foto yang diunggahnya, terlihat Rett sedang menangis kesakitan setelah menjalani operasi pengangkatan tumor extra-renal malignant rhabdoid (MRT) yang tumbuh di livernya saat berusia 10 bulan.

"Itu adalah saat-saat paling sulit karena Rett tidak dapat dihibur. Dia harus menahan rasa sakit dan sulit bagi saya untuk mengingatnya," ungkap Deana seperti yang dikutip dari The Sun.

(Foto: Thesun)

Deana bersyukur dokter yang menangani Rett berhasil melakukan operasi yang menakjubkan. Dokter terus menganjurkan Deana dan suaminya untuk tidak memberikan obat penghilang rasa sakit pada Rett karena hatinya perlu diregenerasi setelah bekerja terlalu keras saat operasi. "Itulah yang menyebabkan Rett menangis. Kami tidak ingin dia menderita, tapi di sisi lain kami tidak punya pilihan," tutur Deana.

Rett mulai diketahui bermasalah sejak usianya memasuki usia 7 bulan. Ketika itu perutnya terus kembung dan dia tidak berhenti muntah. Orangtuanya pun membawa Rett ke rumah sakit di Boston untuk menjalani pemeriksaan. Setelah dokter melakukan pemindaian ultrasound yang diikuti dengan biopsi, Rett didiagnosis menderita kanker yang langka. Hati Deana dan suaminya, James sangat hancur, terlebih ketika mereka mencari tahu lebih lanjut tentang kanker yang diidap Rett. Bayi mungil mereka ketika itu hanya memiliki harapan sebesar 12% untuk sembuh. Deana dan suaminya merasa angka 12% sudah cukup baik karena anak laki-lakinya tampak begitu kuat dan sehat.

Usai operasi pengangkatan tumor di hati berhasil, ternyata kanker sudah menyebar ke paru-parunya. Hal itu membuat Rett harus kembali mendapatkan perawatan. Dia menghabiskan hampir setengah hidupnya di rumah sakit. "Bayangkan Anda berada dalam mode bertahan hidup sepanjang hidup. Itulah yang kami rasakan ketika melihat kondisi Rett. Saya pun terus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh anak saya karena itu benar-benar misteri," kata Deana.

Pada akhir Januari 2015, Rett menjalani jenis kemoterapi baru. Tapi, baru melakukan satu siklus, dokter memberi tahu bahwa mereka tidak memiliki pilihan lain karena nodul mulai tumbuh di tubuh Rett. Deana dan James sangat sakit mengetahui keadaan anaknya. Mereka berpikir telah membawa Rett ke jalan yang benar tapi ternyata mereka masih harus menghadapi hambatan lain. Mereka dengan putus asa mencari pengobatan di rumah sakit lain dan Rett Rett diterima di Rumah Sakit Penelitian Anak St Jude di Memphis, Tennessee. Tapi setelah dokter melakukan pemindaian, kanker telah menyebar di sepertiga paru-paru Rett.

"Saat itu aku sadar kalau Rett tidak memiliki pilihan lain. Demamnya tidak pernah hilang dan dia terlihat sangat begitu kecil serta terus-terusan menahan sakit. Walaupun matanya masih berkilau seperti samudera dan terus menatap kami dengan cinta, kami tahu kehidupannya akan memudar dengan cepat. Rett memang selalu tersenyum, tapi dia sangat menderita," kenang Deana. Rett meninggal pada tanggal 22 Februari 2015 dan kini orangtuanya telah memiliki seorang anak perempuan berusia 16 bulan yang lahir satu tahun setelah kematian Rett.

"Memiliki anak perempuan saya sangat penting bagi saya. Saya ingin menjadi seorang ibu dan bersyukur bisa memiliki anak lagi," pungkas Deana. Dalam rangka mengenang anaknya, Deana dan James mendirikan sebuah badan amal bernama Rett's Roost. Mereka menawarkan retret gratis di akhir pekan, kegiatan terapeutik, dan dukungan untuk keluarga yang anaknya tengah berjuang melawan kanker.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya