GENERASI milenial dekat dengan istilah selfie. Bergaya seorang diri atau dengan teman-teman di depan kamera menjadi hal yang wajib dilakukan bila menemukan spot foto yang bagus atau secara mendadak bertemu kembali dengan teman lama.
Dibalik aktivitas menyenangkan itu, ternyata terkandung bahaya yang mengancam diri seseorang. Sudah banyak psikolog yang menyarankan untuk membatasi selfie pada anak-anak. Masalah seperti krisis kepercayaan diri sampai gangguan penyakit mental bisa menerpa anak Anda.
Tak hanya itu, baru-baru ini, peneliti menemukan adanya reaksi negatif dari selfie, yaitu kejang di gelombang otak remaja setelah dia mengambil foto seorang diri. Dalam jurnal Seizure dilaporlkan, fenomena tersebut dinamakan Selfie-Epilepsy. Dokter melakukan analisis terhadap pasien di laboratorium selama tiga hari.
Dan hasilnya, adanya kejang di bagian gelombang otak setelah si pasien mengambil foto selfie. Namun, kasus tersebut terjadi pada remaja puteri yang sebelumnya pernah mengalami kejang. Jadi, bisa dikatakan selfie merupakan faktor pemicu terjadinya kejang. Pada penelitian yang dilakukan di laboratorium, gadis itu terhubung dengan alat medis nyang disebut electroencephalogram atau EEG. Tak hanya itu, segala aktivitasnya dipantau melalui kamera.
Para dokter menyimpulkan, remaja tersebut kemungkinan memiliki “Respon Fotosensitivitas” terhadap selfie. Dalam kasus epilepsi, kondisi tersebut dinamakan epilepsi fotosensitif. Penyebabnya adalah flash atau lampu yang langsung menyinari mata pasien. Epilepsi ini terbilang cukup terkenal, tetapi hanya terjadi pada sebagian kecil penderita epilepsi.
Dikutip dari Live Science, Dr Joseph Sullivan, direktur Pusat Epilepsi Pediatrik Universitas California, San Fransisco menjelaskan, selfie memang mampu menjadi pemicu masalah ini. Apalagi selfie dengan menggunakan flash. Tidak hanya lampu flash kamera, Dr Sullivan juga menuturkan, alat elektronik seperti layar televisi dan lampu sorot juga dapat memancing kejang-kejang.
(Helmi Ade Saputra)