Dokter melihat ketika melakukan selfie di ruangan gelap, kilatan lampu flash dan kilatan reduksi red-eye yang membuat mata berdenyut menyebabkan lonjakan tidak biasa di otak. Kejang yang terjadi pada remaja perempuan itu membuat dokter mengambil kesimpulan bahwa adanya respon fotosensitif terhadap selfie.
Hal itu merupakan gejala dari salah satu jenis epilepsi, yaitu epilepsy fotosensitifitas. Penyakit ini jarang terjadi, hanya 3% dari penyakit epilepsi yang terjadi. Orang yang menderita penyakit ini bisa mengalami kejang yang dipicu oleh kilatan cahaya, cahaya alami, bahkan pola visual. Epilepsi jenis ini sering ditemukan pada anak-anak dan remaja, dan menjadi berukurang seiring pertumbuhan.
Selain isu kepercayaan diri, ternyata terlalu banyak selfie juga tidak baik untuk kesehatan. Tak hanya menyebabkan epilepsi fotosensitif, terlalu sering selfie juga bisa membuat kulit keriput karena adanya radiasi elektromagnetik dari smartphone.
(Helmi Ade Saputra)