KABUPATEN Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) menyimpan kekayaan tradisi dan budaya yang istimewa. Salah satunya tradisi upacara kematian.
Di sebuah kawasan perbukitan kabupaten Ende terdapat kampung tua, Wolotopo yang masih rutin menyelenggarakan upacara kematian yang kental dengan aroma mistis.
Letaknya sekitar 12 kilometer dari kota Ende. Di kampung ini terdapat banyak kuburan tua yang jaraknya saling berdekatan dan berdampingan langsung dengan tempat tinggal keluarga aruah.
Saat menapakkan kaki di destinasi kampung Wolotopo, sebuah bangunan gereja bercat kuning yang akan menyambut wisatawan. Selanjutnya wisatawan hanya bisa berjalan kaki, menapaki jalan setapak yang menanjak, diapit rentetan rumah yang berdampingan langsung dengan kuburan hingga menuju bukit.
Menurut penuturan pemuda setempat, Mosa, alasan keluarga menguburkan anggota keluarganya yang meninggal di dekat rumah adalah agar bisa selalu bersama. Jadi walaupun sudah berbeda alam, tetapi jasadnya dekat.
"Kuburan di sini ukurannya besar-besar karena memang di atas kuburan sering dipakai untuk beraktivitas juga. Seperti memasak, makan, dan berkumpul. Dalam satu kuburan, ada beberapa jasad," jelasnya kepada Okezone.
Setiap ada orang yang meninggal selalu diadakan upacara potong babi. Penduduk masak dan makan bersama. Selanjutnya, jika menanjak lagi hingga ke puncak bukit, wisatawan akan dibawa ke zaman megalitikum. Di mana terdapat kuburan yang terdiri dari batu-batu besar.
Di antara banyaknya kuburan batu, terdapat sebuah bangunan tinggi kayu yang beratapkan sabuk kelapa. Bangunan itu berisi mayat yang dikremasi. Jika bernyali, pengunjung bisa mengintip dari lubang bangunan tersebut.
Jika Anda berkunjung ke daerah pemilihan Calon Gubernur Esthon Foenay dan Calon Wakil Gubernur Christian Rotok, jangan lupa uji nyali ke kampung Wolotopo.
(vin)