BUKIT Shafa dan Marwah menjadi saksi ketika perjuangan Siti Hajar mencari air untuk anaknya yang masih bayi. Bayinya itu tidak lain ialah Nabi Ismail AS.
Pada saat itu, suami Siti Hajar, ayah dari Ismail yaitu Nabi Ibrahim tidak bisa menemani istri dan bayinya karena harus menaati perintah Allah untuk meninggalkan kedua orang tersayangnya itu.
Siti Hajar dan Ismail ditinggalkan di lembah yang tandus dan tidak ada sumber air, pun pepopohan. Bayi Ismail pun menangis karena kehausan, Siti Hajar pun mulai khawatir dengan bayinya dan mencari air.
Bukit pertama yang ditujunya ialah As-Safa, bukit terdekat dari tempatnya berada. Ia mencari bantuan di daerah bukit itu. Namun, tidak ada bantuan yang didapatnya.
Kemudian, Siti Hajar pun melanjutkan pencarian bantuan ke bukit selanjutnya, yaitu Marawah. Ia berlarian di kedua bukit ini sebanyak tujuh kali. Hingga akhirnya pada bukit Al-Marwah, saat menatap anaknya ada mata air yang muncul di bawah kaki anaknya. Spontan Siti Hajar pun berlari menuju anaknya dan mengikat tangannya agar air tidak menyebar.
Maka, Allah Yang Maha Tinggi menghidupkan kembali keluarga ini dan menghidupkan lembah yang diberkati, kini jadi sumber air zam-zam. Bukit Shafa yang berada di Masjidil Haram menjadi titik umat muslim yang haji untuk memulai sa'i.
Dalam Alquran Allah menyebut Bukit Shafa dan Marwah di surah Al-Baqarah ayat 158