Sulit Dideteksi, Inilah Kendala dalam Menangani Penyakit Hipertensi Paru

Annisa Aprilia, Jurnalis
Jum'at 05 Mei 2017 15:09 WIB
Ilustrasi (Foto: Pennmedicine)
Share :

ASINGNYA penyakit hipertensi pulmonal membuat masyarakat, keluarga pasien dan pasien tidak peduli, cenderung menganggap sepele penyakit ini. Hal ini menjadi kendala dalam melawan hipertensi pulmonal.

Hipertensi pulmonal yang lebih terkenal dengan nama hipertensi paru (HP) adalah penyakit langka yang terjadi karena tekanan darah tinggi di arteri paru (saluran yang menghubungkan jantung kanan ke paru), akhirnya jantung kanan harus bekerja ekstra keras untuk memompa darah ke paru dan menimbulkan gejala-gejala yang seringkali tidak disangka gejala dari penyakit hipertensi paru.

Gejala-gejala itu antara lain, sesak napas saat atau setelah beraktifitas seperti berjalan, bicara dengan waktu yang cukup lama, berlari dan lainnya, mudah lelah dan lemas, pusing hingga pingsan, bengkak di kaku hingga perut atau liver, jantung kanan bengkak, detak jantung tidak beraturan atau cepat, bibir dan kuku biru karena kadar oksigen yang dialirkan darah dalam jumlah rendah.

Sementara itu, menjadi penyakit yang langka dan sulit dideteksinya, menyebabkan banyaknya kendala dan halangan yang ditemui oleh para pejuang hipertensi paru dan keluarganya. Adapun kendala-kendala itu antara lain:

1. Ketersediaan jenis obat hipertensi paru masih minim (dari 14 jenis obat yang ada di dunia, hanya 4 yang masuk Indonesia, itupun 2 off label atau indikasi belum terdaftar.

2. Harga obat yang tidak terjangkau bahkan hingga puluhan juta perbulan dan obat itu harus digunakan seumur hidup! Dari 4 jenis yang tersedia di Indonesia, hanya beraprost yang sudah ditanggung BPJS.

3. Pengenalan dan pengetahuan hipertensi paru masih minim, baik dikalangan umum maupun profesional medis (masih ditemui kasus ribuan pasien belum terdiagnosa).

4. Support pasien dan keluarga masih belum membantu penyembuhan karena seringkali hipertensi paru dianggap sebagai hipertensi biasa, padahal efeknya bisa fatal jika tidak dilakukan perawatan yang cepat dan tepat.

5. Ketersediaan alat diagnosa Echocardiografi, obat-obatan, tenaga medis, ahli, pakar dan dokter spesialis, serta rumah sakit yang dapat menangani masih dalam jumlah yang minim.

Itulah lima kendala yang harus dihadapi oleh keluarga pasien dan pasien yang mengidap hipertensi paru. Dibutuhkan kerjasama dengan semua pihak seperti pemerintah, keluarga, dan masyarakat agar berkurangnya angka kasus dari hipertensi paru dapat terwujud.

(Helmi Ade Saputra)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya