PERJUANGAN Kartini patut untuk diperingati setiap tahunnya, sebab tanpa dirinya perempuan di Indonesia mungkin akan sulit untuk mendapatkan kesetaraan gender terutama dalam mengenyam pendidikan. Untuk itu, yuk tapak tilas sisa-sisa perjuangan di Jepara dan Rembang sebagai Kota Kartini.
Semasa hidup Kartini tinggal di Kota Jepara dan tinggal di sebuah rumah di kawasan Jalan Alun-Alun Nomor 1, yang kini menjadi Museum R.A. Kartini. Bangunan itu pun masih kokoh dan menyimpan cerita mengharukan mengenai perjuangan Kartini selagi masih hidup.
A post shared by Jepara Hari Ini (@jeparahariini) on May 22, 2015 at 6:05am PDT
Kartini lahir pada 21 April 1879 dan sudah tinggal di rumah itu sejak kecil. Tahun tersebut juga menjadi masa pelik Tanah Air karena masih dijajah Belanda, di mana sekolah kala itu hanya untuk kaum elite, sementara pribumi hanya laki-laki saja yang diutamakan untuk duduk di bangku sekolah.
Melihat ketidaksetaraan itulah membuat Kartini sebagai keturunan dari keluarga Priyayi pasangan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, dan M.A. Ngasira tersebut geram untuk memperjuangkan hak wanita agar setara dengan pria terutama untuk masuk ke sebuah sekolahan.
Pemikiran Kartini yang progressive tersebut ternyata sudah ada sejak dirinya masih berusia 12 tahun, di mana ia tidak diizinkan oleh sang ayah untuk melanjutkan studi setelah lulus dari bangku sekolah dasar di Ropese Lagere School (ELS), yang ajarannya menggunakan bahasa Belanda.