Kehidupan Perkampungan Zaman Majapahit Bisa Dirasakan di Mojokerto

Erika Kurnia, Jurnalis
Jum'at 07 April 2017 17:23 WIB
Museum Majapahit, Mojokerto (foto: Instagram/@devy_vita)
Share :

MOJOKERTO di Jawa Timur menurut sejarah merupakan daerah di mana kerajaan Majapahit, yang berpengaruh besar dalam serjarah nusantara, berasal. Kehidupan seperti ratusan tahun tersebut bisa dirasakan dengan datang langsung ke Mojokerto.

Hal ini karena sejak beberapa tahun lalu, pemerintah daerah setempat telah mengalokasikan dana untuk mengubah tiga desa di Trowulan menjadi cagar budaya kerajaan Majapahit. Dan kini, ratusan rumah akan kembali disulap menjadi rumah tradisional, seperti beberapa ratus tahun lalu.

Sebut saja tempat ini 'gudang ilmu' karena di tempat ini kita dapat memperoleh banyak ilmu pengetahuan mengenai peninggalan bersejarah Kerajaan Majapahit mulai dari arca, relief hingga miniatur permukiman penduduk pada jaman Kerajaan Majapahit. Museum Majapahit terletak di Trowulan Mojokerto, Jawa Timur Indonesia. Museum ini berkaitan erat dengan sejarah situs arkeologi Trowulan. Reruntuhan kota kuna di Trowulan ditemukan pada abad ke-19. Sir Thomas Stamford Raffles , gubernur jenderal Jawa antara tahun 1811 sampai tahun 1816 melaporkan keberadaan reruntuhan candi yang tersebar pada kawasan Trowulan.

Sebuah kiriman dibagikan oleh yunilatief (@yuni.latief) pada Jul 15, 2016 pada 7:11 PDT

"593 rumah bantuan akan dibangun di Mojokerto sebagai prototipe perkampungan di zaman Majapahit. Rumah tersebut ada di tiga desa, yaitu Desa Jatipasar, Senotonorejo, dan Bejijong di Trowulan. Desain banguna itu dipelajari oleh kajian banyak ahli sejarah dari relief-relief candi," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, H Jarianto.

Pembangunan rumah prototipe tersebut tidak hanya untuk rumah penduduk atau rumah yang akan dijadikan homestay para turis, yang tertarik datang ke destinasi wisata budaya dan sejarah tersebut.

"Arsitektur dari zaman Majapahit ini sekarang pun tidak hanya bisa dilihat di rumah-rumah, tapi juga di kantor-kantor desa, selain itu jalan-jalan gang desa, diharapkan juga di warung-warung. Jadi ini supaya menarik turis dan bisa bermanfaat ganda sebagai tambahan rezeki. Datang ke sana turis nggak cuma bisa menikmati perkampungan ala zaman Majapahit, tapi juga mendengar cerita sejarah langsung dari penduduk setempat," tuturnya.

(Fiddy Anggriawan )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya