Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), TB menyebabkan 1,4 juta kematian per tahun, membunuh lebih banyak dibandingkan malaria, AIDS dan kombinasi dari segala penyakit tropis.
Pengobatan standar untuk TB terdiri dari empat obat yang diberikan selama enam bulan. Tetapi bagi orang-orang yang terinfeksi dengan bakteri yang telah mengembangkan resistensinya terhadap obat, pengobatan dapat berjalan hingga dua tahun, dan itu mungkin gagal karena kurangnya kedisiplinan.
"Selain itu, strain bakteri TB resisten terhadap obat muncul lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan obat baru," lanjutnya.
Dr Pere-Joan Cardona, yang memimpin studi manfaat ibuprofen, mengatakan hasil studinya menunjukkan, merawat pasien dengan kombinasi standar obat TB dan ibuprofen mengurangi waktu perawatan, serta meningkatkan keberhasilan pasien.
"Namun demikian, kita masih perlu melakukan uji coba klinis hal ini pada manusia, dan secara resmi memasukkannya dalam pedoman TB," katanya.
TB sendiri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tubercolusis. Penyakit Tuberkolusis bukanlah hal baru, secara umum kita sudah mengenal penyakit ini. TB juga bukan penyakit keturunan, dan dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat, lengkap dan teratur.
Penyakit ini dapat menyerang bukan saja pada dewasa, anak-anak bahkan bayi tergolong rentan terhadap penyakit ini. Sebab sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna, kualitas gizi buruk, dan orang dewasa penderita TB sebagai sumber penular merupakan salah satu penyebab anak-anak rentan terhadap infeksi TB.
Berdasarkan organ yang terserang TB dapat dibedakan menjadi, TB Paru dan TB Ekstra Paru, khususnya TB kelenjar getah bening. Yang paling sering terinfeksi adalah kelenjar getah bening di daerah leher, ketiak maupun lipatan paha. Dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa, Indonesia menduduki peringkat keempat setelah Afrika, India, dan China dengan penderita TB terbanyak, di mana setiap tahun timbul 450 ribu kasus baru dan 178 orang meninggal dunia setiap tahun.
(Renny Sundayani)