SIAPA yang tak mengenal nama Ira Koesno, seorang news anchor yang namanya berjaya di era 90-an. Sosok Ira Koesno mulai dikenal akrab oleh masyarakat ketika menggeluti profesi di bidang jurnalistik. Pemilik nama lengkap Dwi Noviratri Koesno itu biasa menyapa pemirsa melalui program siaran berita di sebuah stasiun televisi swasta.
Sempat hilang dari layar kaca, Ira Koesno kembali hadir menyapa masyarakat, tepatnya pada Jumat, 13 Januari 2017. Ia didapuk menjadi moderator debat perdana Pilgub DKI Jakarta 2017. Sejak itu, namanya pun sempat menjadi perbincangan publik di media sosial.
Sepak Terjang di Jurnalistik
(Foto: Heru / Okezone)
Finance dan menulis seolah menjadi dua hal favorit dalam hidupnya. Selesai mendapatkan gelar sarjana dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Ira sempat bekerja menjadi seorang akuntan di perusahaan auditor bernama KPMG Hanadi Sujandro. Pekerjaan tersebut ia lakoni selama kurang lebih satu tahun lamanya, sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke dunia jurnalistik.
“Setelah satu tahun bekerja sebagai akuntan, saya mulai berpikir untuk melanjutkan studi S2. Saya berpikir studi S2 adalah sesuatu yang kurang lebih menunjang pilihan karir kita ke depan. Saya suka akuntasi, finance, tetapi saya juga punya minat yang lain, yaitu menulis. Saya sempat berpikir, apa betul ya saya ingin menjadi akuntan atau justru ingin eksplorasi,” tutur Ira Koesno yang ditemui Okezone secara eksklusif di kawasan Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Seolah ditunjukkan jawaban oleh Yang Maha Kuasa, Ira sempat membaca koran dan menemukan lowongan pekerjaan sebagai reporter di beberapa stasiun televisi. Wanita kelahiran Jakarta, 30 November 1969 itu pun langsung mendaftarkan diri. Tak memerlukan proses yang panjang, Ira pun akhirnya diterima sebagai reporter sebuah stasiun televisi swasta.
“Saya sempat menjadi reporter di lapangan dulu, tetapi saya punya kemewahan ketika berada di lapangan tidak memerlukan waktu yang lama karena kekurangan human resource untuk tampil di layar. Nah, saya katanya dianggap bisa, jadi saya menjadi reporter iya, tampil di layar juga iya. Saat itu, belum banyak human resource yang cukup mumpuni, begitu ada program televisi langsung ditawarin jadi presenter,” ungkapnya.
Sama seperti profesi jurnalis pada umumnya, Ira juga merasakan suka duka melakukan peliputan di lapangan dan melakukan wawancara dengan sederet narasumber ternama. Mulai dari meliput langsung peristiwa darurat militer di Aceh hingga pengalaman yang sulit ia lupakan, yakni ketika mewawancarai mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup, Sarwono Kusumaatmadja pada tahun 1998.
Ira bersama jajaran lainnya dipanggil oleh salah seorang pemegang saham stasiun televisi dan keluarga Cendana. Masalahnya berawal dari istilah ‘cabut gigi’ yang kala itu dilontarkan oleh Sarwono, di mana istilah tersebut merujuk pada arti yang meminta Soeharto (Presiden RI kala itu) untuk mundur.
“Waktu itu hari Minggu dan yang namanya berita kan sepi banget, pasukan di lapangan pun enggak banyak. Jadi, kita ada waktu satu jam dan sebagai jurnalis kalau ada narasumber bagus ya jangan dilepas. Awalnya kita sudah janjian, tetapi ia malah mengancam tidak mau tampil jika tidak diperbolehkan melontarkan istilah tersebut. Kami pun mencoba membujuk, ‘Boleh deh Pak ngomong begitu tetapi ngomongnya background dulu jadi orang yang nonton akan mengerti, jangan langsung bilang cabut gigi’, narasumber bilangnya ‘Iya, iya’. Tetapi, di akhir segmen satu omongan itu sudah keluar,” kenang Ira.
Selain peristiwa tersebut, selama menjadi jurnalis Ira juga merasa terkesan ketika ditugaskan ke Aceh untuk program embedded journalist pasca rekonsiliasi pemerintah dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
“Waktu mau ke Aceh, para jurnalis yang mau berangkat kan dikumpulkan untuk melakukan pelatihan seperti militer, saya termasuk di dalamnya. Saat itu lagi tren embedded journalist. Begitu dikirim ke Aceh, isunya ternyata jurnalis yang dilatih itu akan menjadi sasaran tembak GAM Aceh karena menurut mereka embedded journalist layaknya mata-mata atau intel. Padahal kan bukan itu, kami dilatih untuk siap dengan kondisi di lapangan. Itu juga berkesan,” ungkapnya bersemangat.
Dikenal sebagai presenter dengan gayanya yang lugas, kritis, namun cerdas, Ira sadar betul jika hal tersebut tentu menimbulkan pro dan kontra. Namun, Ira mengaku tidak mau terlalu ambil pusing dengan segala kritik dan komentar yang ditujukan padanya.
“Kalau ada yang mengkritik, saya perhatikan kritiknya, kalau benar saya coba perbaiki. Kalau haters, ya sudah oke saja, enggak mau diambil hati. Sebenarnya saya juga mengucapkan terima kasih karena dengan mengkritik sebenarnya mereka sudah memerhatikan juga, tetapi saya mohon maaf enggak akan mengambil apa yang kamu katakan,” katanya.
Being Journalist is Not in My Blood?
Di tengah kesibukannya sebagai seorang jurnalis, Ira tak lupa untuk mewujudkan keinginannya melanjutkan kuliah S2. Berturut-turut pada 1999 hingga 2001, Ira berhasil meraih dua gelar Master di dua perguruan tinggi berbeda di Inggris. Pertama, master di bidang film dan produksi televisi dari Universitas Bristol dan master di bidang jurnalistik internasional dari Universitas Westminster.
Sebelum menjadi moderator debat Pilgub DKI 2017, Ira sudah pernah menjadi moderator debat Pilpres 2004. Acara tersebut merupakan yang terakhir kali dipandu Ira sebelum akhirnya memutuskan mundur dari dunia pertelevisian lantaran ingin mengembangkan usahanya di bidang jasa strategi komunikasi terpadu, yang diberi nama Ira Koesno Communications (IKComm).
“Setelah merenung dan mendengarkan beberapa teman untuk meminta petunjuk, akhirnya saya sadar bahwa passion dan minat saya bukan menjadi jurnalis, tetapi lebih ke media dan komunikasi,” ujar Ira.
(Foto: Heru / Okezone)
“Being journalist is not in my blood, ibaratnya kalau mau menjadi jurnalis maka passion-nya menjadi jurnalis. Tetapi, setelah saya renungkan passion saya lebih ke medianya. Tahun 2006 saya bentuk IKComm, awalnya adalah production house (PH) tetapi saya jadikan IKComm karena banyak yang minta jasa konsultan strategi komunikasi bukan PH. Jadi, saya sudah mantap dengan dunia ini, jika diminta kembali lagi seratus persen nampaknya tidak bisa, karena bukan itu yang saya inginkan dalam hidup saya,” terangnya.
Ya, sejak mundur dari dunia pertelevisian, peraih gelar Panasonic Gobel Award untuk kategori presenter berita terfavorit, ini mengaku menjadi lebih pemilih terhadap beragam tawaran program televisi yang ditujukan padanya. Apalagi sejak kembali muncul di televisi menjadi moderator debat perdana Pilgub dua bulan lalu, dirinya memang mendapat banyak tawaran pekerjaan di bidang televisi.
“Ada beberapa (program-red), tetapi dengan kesibukan sekarang enggak mungkin ambil lebih dari satu (program-red). Saya sedang menimbang-nimbang, hati saya akan berlabuh di mana, mana yang saya pilih,” kata Ira.
Ira mengungkapkan dirinya tak ingin sembarang memilih program televisi yang ditawarkan. Setidaknya terdapat tiga hal yang menjadi pertimbangan dirinya dalam memilih program televisi. Pertama, adalah perihal audiens atau penonton dari stasiun televisi tersebut.
“Audiens televisi itu sesuai tidak dengan segmen yang hendak dibidik oleh kantor? Sekarang saya memikirkannya ke arah situ, jadi win-win solution, saya bisa muncul di televisi sekaligus menjadikannya sebagai outlet untuk memasarkan kantor,” terang Ira.
Kedua, terkait alokasi waktu dan tenaga. Di mana Ira tak ingin konsentrasinya lebih banyak terserap untuk program televisi karena membuat urusan kantor menjadi terbengkalai. Terakhir adalah perihal dukungan tim kerja internal.
“Tiga hal ini yang membuat saya memilah program televisi mana yang saya harus ambil, jadi masih menimbang-nimbang. Mungkin yang ‘mendekati’ saya juga sedang memikirkan format program seperti apa yang cocok dan sesuai dengan kemauan saya. Mereka tentu mencoba memberikan tawaran format yang terbaik mengingat saya hanya ingin mengambil satu program,” tuturnya.
Pencapaian Ira Koesno saat Ini
Kesuksesan yang diraih oleh Ira Koesno saat ini tentu tak terlepas dari sosok orang yang paling berpengaruh dalam karirnya. Ira mengungkapkan sosok bernama Ita Tobing, pemimpin redaksi pertama program berita stasiun televisi tempat dirinya bernaung kala itu, memiliki peran penting dalam karir Ira sebagai seorang jurnalis.
“Ibu Ita Tobing yang membentuk program berita itu seperti apa. Kemudian, ada Riza Primadi, pemimpin redaksi kedua, yang menemukan dan membentuk saya serta Arif Suditomo. Pak Riza ini seperti mentoring,” ujarnya.
Ira beruntung dukungan keluarga, utamanya orangtua sangat luar biasa terhadap dirinya. Baik menjadi seorang jurnalis atau memutuskan untuk pindah zona sebagai usahawati, nyatanya kedua orangtua Ira tetap menghormati dan percaya terhadap keputusan yang diambilnya.
(Foto: Heru/Okezone)
“Dulu sebagai reporter, ibu saya suka bertanya ‘Nduk, kamu itu kerjanya apa sih? Pulang malam, besok pagi sudah pergi lagi, enggak ada libur’, dari sisi itu saja mereka sebenarnya sudah mencoba mengerti. Kemudian, ketika pindah kuadran, mereka juga bertanya apakah saya yakin. Mereka percaya penuh dengan keputusan saya,” tutur bungsu dari dua bersaudara pasangan Koesno Martoatmodjo dan Sri Utami ini.
Dengan pencapaian yang telah diperoleh saat ini, Ira mengungkapkan jika dirinya masih memiliki impian dan cita-cita yang belum terwujud. Ia ingin bisa mengembangkan serta mengembangkan perusahaannya melalui suatu terobosan yang menantang.
“Saya ingin ada unsur teknologi sehingga membantu mem-boosting performa kantor. Public relations konvensional berjalan, tetapi ada soal IT juga,” katanya.
Cita-citanya yang lain adalah terkait program televisi yang tengah menjadi pertimbangannya saat ini. Jika ditanya program televisi apa yang menjadi kriteria, Ira menginginkan sesuatu yang inspiratif namun tidak menghilangkan ciri khas pembawaan dirinya.
“Pertama, saya ingin yang inspiratif tetapi tetap ada gayanya Ira Koesno yang lugas, kritis, dan tajam. Inspiratif diartikan enggak bisa terlalu hard news ya, tetapi di sisi lain harus ada unsur berita yang dibawa karena itu merupakan gaya Ira Koesno. Nah, memadukan keduanya ini yang tidak mudah, jangan terlalu ringan tetapi tidak hard juga. Saya ingin punya program yang seperti itu,” kata Ira seraya menutup perbincangan.