PEMERINTAHAN kolonial Belanda cukup meninggalkan banyak pembangunan situs bersejarah yang bertahan hingga sekarang di Jakarta, termasuk Museum Nasional. Museum ini juga dikenal sebagai Museum Gajah, tapi apa alasannya?
Menengok terlebih dahulu sejarah gedung ini, gedung ini didirikan pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1862 untuk menampung koleksi museum yang pertama kali lahir pada 1778.
Sebuah kiriman dibagikan oleh Hanung Prasojo (@hanung17) pada Peb 22, 2017 pada 11:56 PST
Berawal dari pembentukan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenshappen, ketua perkumpulan penyuka pengetahuan tersebut menyumbang sebuah gedung di Kalibesar untuk dijadikan museum.
JCM Radermacher juga menyumbang koleksi buku dan benda-benda budaya untuk mengisi museum tersebut. Kemudian pada masa pemerintahan Inggris, Thomas Stamford Raffles, memerintahkan pembangunan gedung baru yang terletak di Jalan Majapahit, yang kini menjadi kantor Sekretariat Negara.
Saat koleksi museum sudah mulai penuh, pemerintah Belanda di tahun 1862 mendirikan gedung baru yang ditempati saat ini dan dibuka untuk umum pada 1868.
Tahun 1871, adalah awal mula museum ini dijuluki Museum Gajah. Raja Thailand, Chulalongkorn (Rama V) , yang datang pada 1971 menghadiahi museum ini patung gajah dari perunggu, yang kemudian dipajang di halaman depan museum.
Setelah kemerdekaan Indonesia, museum tersebut diserahkan sepenuhnya kepada pemerintahan RI, 17 tahun setelah merdeka, tepatnya pada 17 September 1962. Museum tersebut kemudian dikelola langsung oleh pemerintah pusat, langsung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
(Fiddy Anggriawan )