"Saya surati semua untuk meminta dana. Bahkan saya waktu itu bicara dengan menteri untuk bisa aware dengan penderita talasemia," akunya.
Niat mulia Bunda Watty dan suami terwujud dengan didirikannya Yayasan Thalasemia Indonesia pada 1987. Namun, setelah sekian banyak pertolongan dan dukungan orangtua anak penderita talasemia, Watty harus kehilangan anak ketiganya saat berusia 20 tahun. Jauh dari prediksi dokter yang mengatakan bahwa anaknya divonis hidup sampai 10 tahun.
"Sebelum ia meninggal. Saya cuma bisikin ke dia ‘yang ikhlas ya dek mama ikhlas kamu pergi’" pungkasnya.
(Renny Sundayani)