PARA dokter spesialis jantung memiliki pengalaman masing-masing saat menangani pasien dengan masalah jantung karena catatan penggunaan narkoba. Rata-rata pasien datang ke rumah sakit karena mengeluhkan adanya gangguan irama atau denyut jantung.
Namun setiap pasien biasanya tidak mau mengungkapkan bahwa mereka menggunakan narkoba. Dokter harus melakukan eksplorasi lebih dalam untuk memberikan tata laksana pengobatannya.
“Pengguna narkoba ini fenomena gunung es. Jumlahnya umumnya yang datang ke rumah sakit karena sudah muncul problem lain. Kendala kami adalah saat mencari tahu penyebabnya. Pasien akan sembunyikan itu sampai terpojok akhirnya enggak bisa mengelak dan berkata ‘ya saya pakai’,” tukas dr. Jeffrey Wirianta, SpJP, FIHA RS Jantung Diagram-Siloam Hospital Grup, Depok, Rabu 26 Oktober 2016.
Jeffrey menambahkan dokter seringkali tegas kepada pasien untuk memberitahukan riwayat penggunaan narkoba. Pasien yang datang, kata dia, umumnya sudah mengalami kerusakan jantung.
“Cukup kesulitan obati pasien jantung karena narkoba. Semuanya kadang bisa terungkap setelah pertemuan beberapa kali. Kadang kita ancam kalau enggak jujur maka enggak akan bisa ditangani. Akhirnya mengaku. Memang cukup sulit deteksi,” katanya.
Jeffrey menambahkan penanganan pasien jantung pada pasien karena narkoba dan bukan karena narkoba sebetulnya sama saja secara medis. Hanya saja, kata dia, dalam pendekatannya berbeda.
“Hampir gangguan jantung karena narkoba disebabkan penyalahgunaan narkoba suntik. Sampai berapa lama sampai akhirnya terkena gangguan jantung bisa bulanan bahkan sampai tahunan,” jelasnya.
(Helmi Ade Saputra)