BANYAK yang beranggapan bahwa anak yang nakal atau bandel diakibatkan cara orangtua yang salah dalam mendidik anak. Lantas, benarkah anggapan tersebut?
Bicara tentang penyebab anak nakal memang tak bisa hanya dari satu sisi. Apalagi perilaku setiap anak memang unik dan berubah-ubah. Namun tak hanya sikap anak, orangtua pun demikian.
Sifat orangtua yang suka berubah inilah yang menjadikan anak kadang bingung dalam bertingkah laku. Anak merasa orangtuanya sayang sekali kepadanya, tapi di lain waktu juga merasa orangtuanya tidak sayang karena marah atau merasa tidak diacuhkan.
“Tidak ada anak yang nakal. Yang menjadikan anak itu nakal, orangtuanya sendiri. Anak sedang lucu-lucunya dicuekin,” jelas Ketua Dewan Pembina Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak Seto Mulyadi kepada Okezone.
Menurutnya, kondisi tersebut juga tak boleh dibiarkan terlalu lama apalagi saat anak masih balita hingga menginjak Sekolah Dasar. Baginya, banyak orangtua yang tak mengerti pemahaman soal apa yang dirasakan anak kala belum dewasa.
“Mulai dari bayi hingga berusia 13 tahun anak masih dalam kategori yang masih polos. Sifat kejujuran sang anak terekam di usia tersebut dan ini harus dimengerti oleh orangtua,” paparnya lagi.
Kemudian, ada hal lain yang harus dimengerti ayah dan ibunya dalam mendidik anak agar tidak menjadi nakal. Pria yang akrab dipanggil Kak Seto ini mengatakan saat anak melakukan kesalahan, janganlah dimarahi habis-habisan atau pun dicap sebagai anak nakal.
“Anak tidak mengerti apa-apa. Dia melakukan apa yang menyenangkan bagi dirinya, orangtua harusnya mampu menjaga dengan baik dan menasihati dengan baik, bukan malah menghakimi,” tambahnya.
Menurutnya, anak yang dimarahi orangtuanya akan semakin penasaran dengan apa yang dia lakukan. Sehingga, anak akan terus-menerus melakukan kebodohan tersebut.
“Anak itu 'kan sedang belajar. Jika dia berbuat kesalahan, jangan dimarahi. Harusnya diberi arahan, harusnya seperti ini. Kalau dia sering corat-coret tembok, beri dia ruang untuk dapat mencorat-coret khusus untuknya. Itu solusinya, bukan malah memarahi anak dan men-cap dia nakal. Karena dari sana, dia akan menjadi anak yang nakal berkat doa dan omongan orangtuanya,” ungkapnya.
‘Belajar’ mendidik anak dengan tepat
Dalam mendidik dan membesarkan anak, idealnya orangtua juga sudah bisa mengendalikan diri secara emosi sehingga tak mudah marah atau memiliki emosi yang meledak-ledak.
“Orangtua harusnya memiliki pendidikan khusus bagaimana cara merawat dan melindungi anak. Agar tidak ada lagi kasus kekerasan terhadap anak. Dengan bekal pendidikan bagi orangtua, mereka tentu akan sadar bagaimana memerlakukan anak dengan baik dan benar,” lanjutnya.
Hal serupa juga diutarakan oleh Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto. Ia mengatakan agar orangtua bisa memastikan proses pendidikan berlangsung dengan nyaman, menyenangkan dan membelajarkan untuk semua anak.
Adanya anak yang lemah atau pun cerdas secara akademik, bukan berarti dimaknai sebagai takdir, namun karena proses pendidikan yang belum membelajarkan semua anak sesuai dengan karakteristik dan gaya belajarnya masing-masing. “Kembangkan model–model pendisiplinan positif dalam mendidik anak. Tumbuhkan kesadaran untuk disiplin, bukan disiplin karena takut mendapat hukuman,” paparnya.
Diajarkan sejak dini
Di sisi lain, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yambise mengatakan, orangtua sudah harus mengajarkan hal yang baik dari usia bayi hingga 2 tahun. Tanamkan pada anak dengan mengatakan “tidak” saat melakukan hal yang tidak benar dan menjauhkannya dari situasi tersebut.
“Ada kalanya saat orangtua melakukan hal tersebut, anak akan marah, berteriak, atau menangis. Bila hal tersebut terjadi, sebaiknya berikan timeout untuk si kecil. Timeout merupakan tindakan mendisiplinkan anak dengan cara memisahkannya dari lingkungan yang disukainya,” jelasnya.
Diakuinya, orangtua harus memahami pada usia ini anak suka mencontoh perilaku orangtuanya. Oleh karena itu, pastikan orangtua tidak memberikan hukuman fisik karena ia akan dapat mencontohnya di kemudian hari.
Kemudian beranjak pada usia 3-5 tahun maka di masa ini anak sudah bisa berkomunikasi dengan orangtua dan mulai mengerti konsekuensi dari tindakan yang dilakukannya.
Oleh karena itu, cara yang tepat untuk mendisiplinkannya adalah dengan memberi aturan yang jelas dan memberi konsekuensi bila aturan tersebut dilanggar.
Hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan sanksi disiplin untuk anak adalah berikan sanksi yang berhubungan dengan kesalahan yang dilakukannya. Selain itu, bila anak mentaati aturan yang dibuat orangtua, jangan lupa berikan pujian padanya. Selanjutnya dari usia 5 hingga 12 tahun, terapkan aturan yang jelas beserta konsekuensi bila aturan tersebut tidak dipatuhi.
Bedanya dengan balita, di tahap usia ini anak lebih sering menentang. “Seringkali melanggar aturan dan tidak mau mengikuti konsekuensi yang ditetapkan. Bila hal tersebut terjadi, orangtua harus tetap konsisten dengan aturan yang dibuat dan jangan memberikan hukuman fisik, melainkan alihkan energi anak kepada hal lain yang positif,” paparnya.
Yohana Yambise menambahkan saat anak sudah dewasa dan sudah mulai mengerti aturan dan disiplin yang baik bagi dirinya, orangtua mulai tidak perlu membuat sanksi bila anak tidak disiplin, melainkan bisa membiarkan anak mengalami ‘konsekuensi alami’.
Redamlah emosi sebagai orangtua
Hal yang satu ini memang tak pernah dipikirkan oleh orangtua. Banyak orangtua yang memilih untuk meluapkan emosi dan amarah untuk mendidik anak. Padahal, walaupun perilaku anak dirasakan sangat menyebalkan, sebenarnya bukan itu yang menyebabkan kemarahan orangtua. Terkadang malah penyebabnya adalah kondisi kelelahan dalam bekerja dan kurang istirahat.
“Cara mengatasi masalah berasal dari apa yang sudah dipelajari dalam kehidupan. Ketika masih kanak-kanak, orangtua mungkin saja bersikap sama ketika melakukan sesuatu yang pada akhirnya marah. Tanpa disadari ini sudah melukai psikologi anak,” jelas Psikolog Anak dan Remaja, Vera Itabiliana.
Orangtua dan anak memiliki hubungan yang unik di mana keduanya bisa saling memicu kemarahan bahkan untuk hal yang sangat sepele. Tak jarang kita sebagai orang dewasa suka bertindak irasional kalau sudah menghadapi anak. Anak sering berperilaku menyebalkan dan seolah menguji kesabaran orangtua karena mereka memang masih anak-anak yang tentu memiliki pola pikir dan kematangan yang jauh berbeda dengan orang dewasa.
“Fenomena ini dikenal sebagai “ghosts in the nursery” yaitu anak membangkitkan perasaan kemarahan yang terpendam dari masa kanak-kanak kita, dan membuat kita secara tidak sadar berespons sedemikian rupa untuk ‘melawan’ kemarahan,” ungkapnya.
Menurutnya, cara terbaik yang dilakukan orangtua bukanlah dengan meluapkan emosi, namun harus menggunakan kedewasaan untuk mengendalikan ekspresi kemarahan kepada anak dan meminimalisasi dampak negatifnya.
“Orangtua harus memahami hal ini, di mana jika anak kerap mengalami kekerasan ini akan menunjukkan perilaku negatif di kemudian hari sebagai dampak dari kekerasan yang pernah dialaminya. Bila anak menjadi tidak takut pada kemarahan Anda, itu merupakan indikasi bahwa anak sudah terlalu sering melihatnya dan sudah membangun usaha pertahanan diri untuk melawannya, pahamkan ini,” tegasnya.
Faktor teknologi
Kemajuan teknologi kerap mengasah cara berpikir anak menjadi lebih smart dan kritis. Di sini, banyak orangtua yang beranggapan dengan memberikan hadiah berupa gadget akan membuat anak bisa menghilangkan sifat nakal karena perhatiannya teralihkan. Padahal orangtua juga perlu memperhatikan penggunaan gadget dan internet.
Menurut Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementrian PPPA, Pribudiarta Nur Sitepu, dampak buruk internet dapat mempengaruhi mental dan emosi anak dalam masa tumbuh kembangnya. Oleh karena itu, peran keluarga diharapkan lebih dominan karena anak-anak akan cenderung lebih mudah dalam menyerap hal-hal negatif dari internet.
Hal serupa dituturkan Psikolog Anak dan Remaja, Vera Itabiliana ketika bicara masalah penggunaan gadget, rasanya zaman sekarang memang agak sulit jika kita melarang anak-anak untuk 'berkenalan' dengan gadget. Biar bagaimana pun, anak kita ini adalah digital native, anak-anak yang hidup dalam dunia digital. Dengan kemajuan teknologi anak-anak bisa meningkatkan kemampuannya untuk berkreasi karena bisa berbagai hasil seni atau pun tulisan.
Menurut Vera, yang paling penting adalah bagaimana orangtua mampu berperan membuat gadget lebih dari sekadar screen time. Sarannya, manfaatkan gadget untuk menjalin komunikasi yang hangat, santai dan terbuka dengan anak.
Jadi, jangan lupa untuk mengajak anak berdiskusi. Selain itu, tentu saja harus menjadi contoh less gadget life. Maksudnya, paham akan batas waktu dan tempat dalam penggunaan gadget. Selain itu jangan biarkan anak menggunakan gadget tanpa sepengetahuan orangtua. "Jadi jangan lupa terapkan aturan. Tentukan waktu dan wilayah yang boleh dan tidak boleh. Kalau saya, ketika di rumah dan saat makan nggak boleh ada gadget," tutupnya.
(Vien Dimyati)