"Kalau pertanyaanya kenapa sih dunia baru punya peneliti wanita itu 30 persen? Karena pada kenyataannya di lapangan memang minimnya lapangan pekerjaan untuk peneliti di Indonesia. Pihak dalam negeri banyak bisa sekolahin anak-anak berprestasi ke luar negeri untuk jadi ilmuwan, tapi pas balik ke Indonesia mereka-mereka ini tidak menemukan lapangan kerja tersebut. Jadi peneliti bukan pilihan karier yang populer," ungkap Dr. Fenny M. Dwivany yang ditemui Okezone belum lama ini di Jakarta.
"Ini menunjukkan bahwa tingkat minat untuk jadi seorang peneliti masih kecil, makanya perlu dibuka mata publik bahwa pekerjaan ini tantangannya banyak tapi reward-nya juga banyak. Sebetulnya it's global problem ya suatu negara tidak seimbang memiliki peneliti. Ini soal kesetaraan gender juga, ini jadi masalah global banyak negara tidak hanya di Indonesia," tambah Dr Ines Atmosukarto yang dijumpai dalam kesempatan yang sama.
Namun Dr. Fenny menyebutkan bahwa situasi kurangnya peneliti khususnya peneliti wanita di Indonesia ini coba untuk diambil sisi positifnya saja.
"Di sini sedikit tapi sebetulnya yang tersebar di luar negeri-kancah internasional ya banyak. Karena memang lapangan pekerjaannya tersedia, jadi ambil saja sisi positifnya kalau kita-peneliti Indonesia itu menyebar alias diaspora," ujarnya Dr.Fenny.
Disebutkan pula bahwa kondisi kurangnya infrastruktur sarana yang mendukung dan funding alias dana di Indonesia juga jadi faktor mengapa tingkat peneliti di Indonesia khususnya wanita masih kecil.
(Vien Dimyati)