Brebes Hidupkan Desa Wisata Berbasis Edukasi

Dwi Ayu Artantiani , Jurnalis
Senin 03 Oktober 2016 12:20 WIB
Wisata di Brebes (Foto: Dwi Ayu Artantiani/Okezone)
Share :

DUKUH Pandansari, Desa Kaliwlingi, Kecamatan Brebes, Brebes, Jawa Tengah, memiliki potensi yang luar biasa.

Selama setahun ini, masyarakat setempat berhasil menciptakan desa wisata yang berbasis edukasi bagi masyarakat.

Berawal dari sebuah ide kelompok tani yakni Kelompok Dewi Mangrove Sari dalam memperbaiki kerusakan lingkungan di Dukuh Pandansari, Desa Kaliwlingi, Kecamatan Brebes, Brebes, Jawa Tengah.

Desa wisata ini memamerkan keindahan mangrove yang berada di perairan tersebut. Perjalanan yang ditempuh pun tidak begitu menyita waktu, hanya sekira 20 hingga 40 menit menuju ke desa ini dari Kota Brebes.

"Sudah 11 tahun kami rutin melakukan penanaman mangrove sejak 2006 hingga 2015," terang Pengelola Wisata Mangrove, Mashadi.

Mashadi mengungkapkan bermulanya pembentukan desa wisata mangrove ini pada saat terjadi kerusakan lingkungan yang cukup parah, ratusan hektare lahan tambak warga terkena abrasi.

"Setelah itu, munculah ide untuk membuat wisata mangrove yang tadinya hanya sebagai alat penahan abrasi," ungkapnya.

Ia mengaku meskipun baru setahun berjalan, wisata mangrove ini sangat menyedot perhatian masyarakat baik masyarakat sekitar maupun diluar daerah ini. Lahan mangrove ini seluas 210 hektare yang terbagi menjadi lahan tambak dan lahan ekresi.

"Selain wisata mangrove, kami juga membentuk sekolah alam dengan tujuan untuk memberikan edukasi kepada anak-anak yang belum memahami soal lingkungan, seperti ekosistem wisata, kerusakan alam, siklus air, pembibitan kepiting soka dan lainnya," papar Mashadi.

Untuk sekolah alam, kata dia, baru berdiri April 2016 lalu, pihaknya juga terus berupaya untuk mempromosikan desa wisata mangrove ini setahun kedepan.

"Kami baru memasang tarif paket wisata untuk keluarga sebesar Rp500 ribu untuk 6 orang, itu diluar hari Sabtu dan Minggu, pasalnya perahu kita terbatas," terangnya.

Namun demikian, Mashadi mengaku masih banyak infrastruktur yang harus dibenahi seperti jalan menuju wisata mangrove, trekking di wisata mangrove sepanjang 800 meter , menara pandang dan lainnya.

"Pembangunan traking terhenti sementara akibat dana yang kurang, karena pembangunannya hanya mengandalkan dari pemerintah setempat," tuturnya.

Ia menambahkan di wisata mangrove ini dari berbagai jenis mangrove, seperti api-api atau avicennia marina dan bakau atau rhizophora mucronata.

Di sini juga ada pulau pasir yakni pasir yang berada di tengah laut yang hanya ada di Losari, Saujajar dan Pandansari.

"Selain bisa menjumpai berbagai wisata, di padukuhan ini pun kaya akan sumber daya alamnya, kita bisa membawa oleh-oleh dari padukuhan ini seperti telor asin, kepiting soka, garam, bawang merah, batik dan oleh-oleh khas lainnya," terangnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya