Pro-Kontra Kelahiran Bayi Pertama dengan 3 DNA Orangtua

Fiddy Anggriawan , Jurnalis
Rabu 28 September 2016 13:29 WIB
Dr John Zhang bersama bayi dengan tiga DNA (Foto: Theguardian)
Share :

Pengobatan ini ditujukkan untuk mengurangi risiko menurunkan penyakit fatal dengan cara melemahkan genetik bagi anak-anak mereka.

Ibu dari anak itu didiagnosa membawa gen sindrom leigh (kelainan neurometabolisme yang berdampak pada sistem saraf pusat) yang fatal dan dapat mempengaruhi perkembangan sistem saraf.

Sepuluh tahun setelah pasangan ini menikah, sang istri kehilangan bayi saat hamil dengan mengalami keguguran selama empat kali. Pasangan itu memiliki seorang bayi perempuan pada tahun 2005 yang meninggal pada usia enam bulan kehamilan. Kemudian, anak kedua hanya hidup selama delapan bulan.

Tes pada istri menunjukkan bahwa sejauh ini dirinya sehat, namun sekira seperempat dari mitokondrianya membawa gen untuk sindrom leigh.

Ketika pasangan itu berkonsultasi denga Zhang, kemudian mereka memutuskan untuk mencoba prosedur transfer mitokondria. Dia mengambil inti dari salah satu sel telur wanita dan dimasukkan ke dalam sel telur donor yang sehat. Dia kemudian dibuahi telur dengan sperma suami.

Tim AS menciptakan lima embrio tetapi hanya satu yang dapat dikembangkan secara normal. Ini ditanamkan ke ibu dan bayi lahir sembilan bulan kemudian.

Sebenarnya bayi dengan tiga DNA dari orang yang berbeda berhasil dilakukan pada tahun 1990-an. Saat itu dokter kesuburan mencoba untuk meningkatkan kualitas sel telur perempuan dengan menyuntikkan sitoplasma, materi seluler yang berisi mitokondria, dari telur donor yang sehat. Prosedur menyebabkan beberapa bayi yang lahir dengan DNA dari orangtua ditambah donor yang sehat.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya