Tak Pernah Lelah Bereksperimen, Kiat Berkembangnya Usaha Martha Tilaar

Tentry Yudvi, Jurnalis
Senin 15 Agustus 2016 21:11 WIB
Kisah sukses Martha Tilaar (Foto: Tuty/Okezone)
Share :

KESUKSESAN Martha Tilaar membuat sebuah perusahaan kosmetik pertama di Indonesia masih terasa hingga saat ini, bahkan produknya sudah sampai ke luar negeri.

Cintanya terhadap budaya Indonesia yang kaya memberikan banyak inspirasi untuk wanita Indonesia. Terhitung sudah puluhan tema nusantara diusung untuk menghadirkan warna baru di industri kecantikan Tanah Air.

Sebagai pelopor kosmetik lokal pertama, wanita kelahiran Gombong, Kebumen, itu sudah berhasil melestarikan budaya nusantara untuk tetap dikenal di kalangan masyarakat luas Tanah Air. Terhitung sudah 9 brand yang dinaungi PT. Marha Mertina Bertho Tbk, yang hadir untuk melengkapi gaya wanita Tanah Air. Bahkan, produknya pun sudah tersebar di beberapa negara.

Lantas, apa yang sudah dilakukan Martha Tilaar dalam mengembangkan produk? Berikut wawancara eksklusif Okezone bersama Martha Tilaar.

Saat ini total berapa brand dan apa yang menjadi kekuatan masing-masing?

Saya sudah punya 9 brand dalam perusahaan saya diantaranya Sariayu, Caring Colours, Belia, Berto Tea, Dewi Sri Spa, Professional Makeup Artist PAC, Jamu Garden, Mirabella, Rudy Hadisuwarno. Pertama saya meluncurkan Sariayu, yang sudah sukses. Setelah kemunculan itu, saya ingin membuat produk kosmetik yang bisa dijangkau oleh semua kalangan dari menengah ke bawah hingga atas. Saya kemudian membuat produk untuk menengah misalnya ada Maribella, Cempaka, Caring Colours. Kemudian, saya hadirkan biokos untuk kalangan menengah ke atas. Sementara saya hadirkan untuk profesional itu ada PAC. Semuanya itu punya perusahaan saya, bahan-bahan yang diambil semuanya alami. Kalau soal warna, orang bisa melihat perbedaan warna dan bisa dipilih seusai keinginan mereka. Bahkan kami juga menghadirkan untuk para remaja, dengan warna-warna pop up dan fresh. Semua produk saya juga sudah melengkapi kebutuhan wanita dari ujung rambut hingga kaki.

Melihat tema-tema yang diusung dalam produk, Anda selalu mengangkat tema etnik, lalu bagaimana Anda mengembangkannya?

Saya melakukan banyak sekali traveling ke pelosok daerah di Indonesia. Saya mencari terus inspirasi dari setiap wilayah. Indonesia itu kaya. Saat saya berada di Jogja, dan ada nama tempat Seriwedari. Di sana saya melihat akan ada pertunjukan wayang orang, kemudian saya datang. Saya melihat persiapan yang mereka lakukan. Saya kaget, ketika mereka memakai bahan-bahan yang tidak biasa untuk wajah mereka. Mereka memakai arang, dan abu sebagai riasan wajah. Kemudian, kertas merah untuk mewarna bibir mereka. Saya sedih, dan prihatin. Sudah gitu, saat saya menjual tiket untuk menonton secara cuma-cuma tidak ada satupun yang ingin menonton, padahal gratis. Kemudian, ada 7 orang bule lewat saya tawari dan mereka tertarik. Di situ saya merasa masyarakat tidak peduli dengan budaya.

Dari sana, saya kemudian ingin membuat produk kosmetik untuk wanita Indonesia. Kemudian, saya membuat brand Sariayu dan menghadirkan kosmetik bertemakan Senja di Seriwedari. Terinspirasi dari wayang di Seridewari itu. Terus sukses menjadi trend centre. Dari situ saya ingin terus mengangkat budaya Indonesia. Saya melakukan traveling dan belajar. Sampailah saya ke garis khatulistiwa. Di sana saya melihat kulit wanita sangat bersih, padahal sinar matahari terik sekali. Kemudian, saya tanya, apa rahasianya, dan jawabannya adalah bedak langsat. Lalu, saya pulang ke Jakarta saya lakukan riset. Ternyata bedak langsat memiliki antioksidan yang tinggi dan satirasinasi untuk memperlambat pembentukan melamin.

Hingga saat ini, produk yang Anda hadirkan apa sudah Go Internasional?

Sudah banyak beberapa negara, seperti Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan dan masih banyak lagi. Meski saya tidak punya toko, tetapi produk saya sudah bisa ditemui di negara-negara itu.

Soal bahan, bagaimana Anda mencari bahan alami untuk produk Anda?

Saya hanya mengandalkan latar belakang pendidikan saya. Saya tidak mau ada kimia karena bisa merusak kulit. Saya waktu itu tertarik dengan bahan organik kemudian saya kembangkan dengan mempekerjakan profesor dan ahli botanis untuk bekerja dan melakukan riset. Semua bahan alami yang ada di Martha Tilaar itu saya buat riset terlebih dahulu, baru dituangkan ke dalam produk.

Bagaimana dengan label halal dalam produk Anda?

Semua produk saya sudah lulus sertifikat MUI sebanyak dua kali. Saat saya memulai untuk mengembangkan bisnis saya kemudian diingatkan oleh suami saya. Ia mengingatkan saya kalau saya usaha untuk masyarakat yang mayoritas Muslim. Jadi saya terpikirkan untuk membuat label halal itu. Semua prosedur hingga bahan saya itu dilakukan dengan baik sehingga akhirnya saya bisa lolos dua kali saat tes dari MUI.

(Renny Sundayani)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya