Tradisi Bikin Dodol Betawi untuk Lebaran & Niat Jaga Silaturahmi

Santi Andriani, Jurnalis
Selasa 05 Juli 2016 12:43 WIB
Tradisi membuat dodol betawi jelang Lebaran (Foto: Santi/Okezone)
Share :

LEBIH dari 10 orang dewasa terlibat membuat dodol betawi. Sementara beberapa anak kecil bergerombol suka cita melihatnya. Terlihat merepotkan, tapi keriuhan dan gotong royong ini yang juga ingin dilestarikan, ketika membuat dodol yang hanya sekali setahun menjelang Lebaran.

Jika kaum perantauan memiliki tradisi mudik ke kampung halaman, keluarga Betawi di Kampung Cilalung, Jombang, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten, juga memiliki tradisi yang masih dijaga menjelang Lebaran. Lebih dari sekadar membuat suguhan spesial hari raya, sama seperti mudik, membuat dodol betawi berarti menjalin silahturahmi antar keluarga dan tetangga. Serta awal suka cita menyambut hari kemenangan.

Matahari masih jauh dari terik pada Senin, 4 Juli 2016, ketika tujuh orang perempuan, baik tua maupun muda, terlihat sibuk dengan baskom masing-masing di teras rumah Mpok Maryati, anak Pak Marsim, pria yang dituakan dan dihormati di Kampung Cilalung.

Tidak hanya istri, anak dan menantu, para tetangga yang bukan orang Betawi pun dan kebetulan tidak mudik, bahkan tidak merayakan Idul Fitri, ikut berkumpul dan sudah diberi jatah baskom dengan adonan dodol.

Jari-jari para perempuan muda tampak gesit menguleni adonan tepung beras ketan yang sudah dicampur santan encer. Ibu Rusiah Janur, yang berlaku sebagai 'koki' tampak mengawasi. Ia akan gesit bergerak dengan gayung santan encer di tangan, jika dilihatnya ada adonan yang kurang santan untuk dilembutkan.

Mereka penuh semangat dan sesekali bercengkrama melempar canda untuk membuat pekerjaan menjadi lebih menyenangkan. Sementara di sudut lainnya, terlihat beberapa perempuan lainnya bertugas menyerut gula merah dan merajang bawang merah sebagai bumbu penyedap dodol. Di bawah pohon rambutan yang rindang, tampak seorang pria yang orang Jawa, tengah mengaduk-aduk santan kelapa kental dalam sebuah kuali besar yang dimasak dengan kayu bakar untuk dijadikan minyak.

Keluarga Marsim Lebaran kali ini membuat sekira 25 kilogram dodol betawi, lima kilogram lebih sedikit ketimbang Lebaran tahun lalu yang membuat 30 kilogram. Sekira Rp1,5 juta digelontorkan Pak Marsim pribadi untuk membuat dodol yang nantinya akan dibagikan ke sanak keluarga dan juga para tetangga.

Untuk membuat dodol betawi itu, Rusiah Janur menerangkan, setidaknya dibutuhkan 25 kg tepung beras ketan hitam, 35 buah kelapa tua untuk diambil santannya, 16 kg gula merah, 10 kg gula pasir, setengah kilogram bawang merah, garam, dan minyak kelapa.

"Bawang merahnya bikin dodol gurih, jadi enggak manis doank, tapi juga ada gurihnya," jelas Rusiah ketika Okezone penasaran mengapa menggunakan bawang merah, sementara dodol adalah camilan manis.

Setelah adonan dodol lembut dan agak cair, giliran dalam kuali besar dimasukkan bahan-bahan pertama, seperti gula merah, gula pasir, bawang merah rajang dan air. Kini giliran tenaga pria dibutuhkan untuk mengaduk-aduk hingga gula merah sepenuhnya encer namun tidak sampai menjadi karamel. Sebuah kayu yang mirip sampan digunakan untuk mengaduk.

Tahap terakhir adalah memasukkan adonan dodol dikit demi sedikit hingga baskom terakhir. Sambil dimasukkan, adonan harus terus diaduk agar tidak cepat menggumpal. Pada bagian ini pengadukan tidak boleh berhenti. Tenaga yang besar semakin dibutuhkan karena adonan akan menjadi berat. Hingga adonan berubah warna menjadi coklat gelap. Agar dodol tidak lengket sehingga mudah diaduk dan dibolak-balik, maka akan sering diberi minyak kelapa.

Jika sudah set namun tetap lembut dan berminyak, maka artinya dodol sudah matang. Dodol kemudian dicetak dalam wadah persegi atau bulat dan ditunggu hingga dingin. Setidaknya dibutuhkan waktu sekira enam jam untuk membuat dodol betawi hingga matang.

Pak Marsim menuturkan, awalnya sang istri tidak berkeinginan untuk membuat dodol pada Lebaran tahun ini. Tapi keinginan kuat Pak Marsim untuk menyuguhkan kuliner khas Betawi saat Lebaran, akhirnya meluluhkan sang istri, yang kerap dipanggil Nyai As, untuk belanja bahan-bahan dodol.

Lebih dari itu, Pak Marsim menyebut proses membuat dodol membuatnya melihat pemandangan yang indah akan rasa kebersamaan dan memperkuat tali silahturahmi antar keluarga dan tetangga.

"Semangatnya neng, pada datang, ngumpul, gotong royong, kerjain bareng-bareng, tali silahturahmi juga kejaga. Kalau enggak begini, jarang pada ngumpulnya," tukas Pak Marsim kepada Okezone.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya