Stasiun Maguwo Lama terletak di Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Sleman, Yogyakarta. Stasiun tersebut saat ini sudah tidak aktif, karena digantikan dengan bangunan stasiun baru yang berada di sebelah timur, kurang lebih 100 meter dari letak stasiun lama. Stasiun Maguwo yang aktif hingga sekarang, dibangun di kawasan Bandara Adisucipto yang sudah terintegrasi.
Stasiun Maguwo lama memiliki sejarah yang sangat panjang, hampir seperti stasiun Lempuyangan Yogyakarta yang masih aktif hingga sekarang.
Pembangunannya hampir bersamaan, yaitu sekira tahun 1870, ketika jalur Yogyakarta terintegrasi dengan jalur kereta api dari Semarang, melewati Surakarta. Dahulu, Stasiun Maguwo Lama tidak seperti sekarang ini berupa bangunan permanen yang sudah tertutup, tetapi hanya bangunan semi permanen menggunakan kayu sebagai tempat transit kereta api saja. Berbeda dengan Stasiun Lempuyangan yang memang sejak awal digunakan untuk stasiun kereta api dan tempat langsir lokomotif.
Peresmian dan pengoperasian secara total stasiun ini dilakukan bersamaan dengan beroperasinya jalur Semarang-Surakarta-Yogyakarta pada tanggal 21 Mei 1873. Sejak saat itu, pengoperasian kereta api di Yogyakarta dimulai, dengan stasiun Lempuyangan dan halte Maguwo sebagai dua stasiun yang melingkupi transportasi kereta api.
Pada mulanya Stasiun Maguwo dibangun untuk keperluan perkebunan, digunakan untuk transit kereta api yang akan keluar dan masuk pabrik gula Wonocatur. Halte Maguwo awalnya hanya digunakan sebagai transit kereta api untuk pengangkutan ke pabrik gula Wonocatur.
Keistimewaan Stasiun Maguwo Lama terdapat pada masa pemerintah Hindia-Belanda, pada masa itu stasiun ini diapit oleh jalur kereta api yang berbeda pengoperasian dan kepemilikannya. Jalur kereta sebelah selatan stasiun milik perusahaan swasta NISM (Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschapijj) dengan ukuran lebar rel (spoor) 1435 mm dan 1067 mm. Sedangkan sebelah utara adalah jalur milik perusahaan kereta api Negara SS (staatspoor en Trawegen) dengan lebar rel (spoor) 1067 mm. Jalur milik SS ini adalah jalur kereta api cepat dengan rute Jakarta-Surabaya.
Stasiun Maguwo Lama direnovasi pada tahun 1909. Bentuk bangunanya masih dapat kita jumpai sampai sekarang, material bangunan 80 persen terbuat dari kayu dan masih asli semenjak pembangunan pada masa renovasi.
Gaya bangunan mengadopsi seni bangunan Eropa yang terkenal dengan bangunan terbuat dari kayu, seperti di desa-desa Eropa terutama di Inggris. Sampai saat ini perbaikan yang dilakukan hanya sebatas pengecatan ulang dan perawatan kayu agar tidak termakan oleh rayap.
Bangunan berbentuk persegi panjang memiliki 4 ruang, yaitu ruang PPKA (Pimpinan Perjalanan Kereta Api), ruang kepala stasiun yang tergabung denggan loket tiket, ruang dapur dan ruang tunggu penumpang. Saat ini bangunan inti hanya terdiri dari dua ruangan; satu ruangan utama yang kosong tanpa sekat, dan ruang kedua yang dibangun pasca penutupan stasiun. Keseluruhan bangunan stasiun terbuat dari 80 persen kayu jati yang masih asli, hanya diperbaharui dengan pengecatan ruang.
Bangunan pendukung lainya yang berada di sekitar Stasiun Maguwo Lama antara lain, rumah dinas pegawai kereta api, yang berada di sebelah utara stasiun dengan arsitektur kolonial. Tetapi sayangnya bangunan ini sudah rusak, hanya tersisa kerangka-kerangka bangunan.
Ada pula gudang KA yang berada di sebelah selatan stasiun, berada di sebelah selatan rel kereta api sekarang. Sewaktu terjadi Agresi Militer Belanda ke II di utara gudang, terdapat peron tinggi yang berfungsi untuk bongkar muat perlengkapan perang pasukan Belanda.
Stasiun Maguwo Lama dibebastugaskan semenjak tahun 2008, mengingat Stasiun Maguwo Baru dibangun tepat di depan Bandara Adisucipto. Salah satu alasannya, pembangunan transportasi yang terintegrasi dengan Bandar Udara. Sejak dinonaktifkan, stasiun ini kemudian menjadi bangunan cagar budaya milik kereta api.
Bangunannya masih dapat dinikmati hingga sekarang, tidak jauh dari Stasiun Maguwo Baru. Jika berkunjung ke Stasiun Maguwo Baru tengoklah ke arah barat dan akan terlihat di sisi barat. (fds)