AKHIR April menjadi hari akhir Pekan Imunisasi Dunia 2016 bertema "Menutup Senjang Imunisasi: Imunisasi untuk Semua Sepanjang Hidup". Namun, ini adalah awal bagi seluruh dunia mengingat manfaat dari berperan aktif dalam mendukung peningkatan cakupan imunisasi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sebanyak 1,5 juta kematian di dunia dapat dicegah jika cakupan vaksinasi meningkat. Sampai hari ini, 18,7 juta bayi atau satu dari lima anak di dunia masih tidak diimunisasi rutin untuk penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), seperti difteri, pertusis, dan tetanus.
Untuk Indonesia sendiri, dikatakan dr Prima Yosephine Hutapea, MKM, Kepala Subdirektorat Imunisasi, Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, yang menyampaikan pesan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan RI, anak-anak diimunisasi segera sebelum usia satu tahun.
Kemudian ketika anak-anak memasuki usia sekolah dasar agar diberi booster penyakit menular yang diwajibkan, termasuk vaksin HPV. Sampai dewasa, khususnya wanita hamil untuk vaksin tetanus, serta berbagai vaksinasi yang dibutuhkan.
"Dengan imunisasi atau vaksinasi, kejadian cacat dan sakit akibat penyakit menular yang bisa dicegah dengan imunisasi bisa dilakukan. Ini adalah intervesi yang paling efektif. Bahkan dikatakan angka kematian bisa dicegah sampai 1,5 juta jika situasi imunisasi global membaik," katanya, dalam seminar media Pekan Imunisasi Nasional, di FK Universitas Padjajaran, Bandung, Jawa Barat, Minggu, 1 Mei 2016.
Indonesia sendiri sudah mencapai eradikasi cacar, penyakit yang pernah menimbulkan banyak kasus kecacatan dan kematian pada 1974, sampai akhirnya pada 1980 imunisasi cacar dihentikan. Indonesia juga baru-baru ini sudah dinyatakan bebas polio dan mendapat sertifikat dari WHO. Kesuksesan imunisasi di Indonesia, untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian, yang diharapkan menyusul adalah pertusis, tetanus, dan campak.
"Tantangan kita saat ini untuk meningkatkan cakupan imunisasi dan vaksinasi salah satunya adalah kepercayaan masyarakat bahwa imunisasi hanya untuk anak usia di bawah satu tahun. Belum lagi kurangnya dukungan dari layanan kesehatan, dan provokasi kontra imunisasi yang tidak sesuai dengan harapan kita bersama," tambahnya.
(Vien Dimyati)