PREEKLAMSIA merupakan penyebab utama kematian ibu di negara maju dan berkembang. Masalah ini juga dapat mengganggu tumbuh kembang janin.
Dikutip Obgyn, Kamis (21/4/2016), wanita yang memiliki riwayat tekanan darah tinggi selama kehamilan, sangat berisiko mengalami komplikasi antenatal, intrapartum dan gangguan selama masa nifas. Peningkatan risiko berlaku untuk ibu dan janin.
Preeklamsia adalah bentuk paling serius akibat komplikasi kehamilan hipertensi. Dalam perjalanannya, preeklamsia diawali dengan plasentasi abnormal yang mengakibatkan pelepasan sitokin dan racun lainnya, serta aktivasi trombosit.
Nantinya, kasus ini dapat menyebabkan komplikasi yang berkaitan dengan sistem vaskular, gagal ginjal dan hati.
Bagi janin tentu ada hambatan tumbuh kembang sang janin. Tak pelak, kelahiran prematur pun terjadi. Ini akan menimbulkan ancaman besar bagi janin yang mungkin memerlukan perawatan khusus oleh tim medis.
Sementara itu, pada kasus preeklamsia berat, terjadilah cedera janin karena disebabkan kekurangan gizi. Bukan hanya itu, bayi yang lahir dari ibu preeklamsia biasanya memiliki berat badan lahir rendah.
Untuk mencegahnya, ibu hamil yang memiliki riwayat hipertensi harus rutin cek ke dokter kandungan. Selama masa kehamilan, kondisi tekanan darah Anda akan terus dipantau, begitu juga dengan pola makan Anda.
Kalau rutin melakukan deteksi dini, rata-rata keberhasilan proses persalinan pun terjadi. Kondisi ibu akan sehat dan janin yang dikandungnya tidak akan lahir prematur. Walaupun terkadang dalam proses persalinan sang ibu melewati operasi pembedahan caesar.
(Helmi Ade Saputra)