TIDAK mudah memerjuangkan kain tradisional menjadi bentuk yang lebih modern dan mendunia. Seperti yang dilakukan Bintang Mira, desainer cantik dari Gianyar, Bali. Sudah dua tahun belakangan ini, ia mengenalkan motif batik Bali ke kancah international.
Istri Pande Putu Gede Wiratama ini menganggap, batik Bali sebagai salah satu media berkontribusi memajukan UMKM dan industri pariwisata Bali ke depan.
Lantas, bagaimanakah awal mulanya ia bisa mengenal kain batik Bali dan mau melestarikannya?
Pemilik nama lengkap Bintang Mira Afriningrum ini ingin mengangkat keindahan kain tradisional Bali ke tataran kancah international. Kepada Okezone, ia pun bercerita mengenai awal mula berkecimpung dengan batik Bali.
Itu berawal dari perusahaan keluarga Pande (keluarga mertua) yang memiliki perusahaan batik Bali. Pande sendiri merupakan clan keluarga suami, di mana mereka berpesan agar ia meneruskan usaha batik Bali dan terus melestarikannya. Meskipun jumlahnya minoritas, ia terus berjuang melestarikan batik Bali.
“Kami mengangkat motif seperti poleng dan patra Mesir. Karena batik Bali merupakan prusahaan warisan dari mertua, beliau berpesan kepada saya untuk meneruskan usaha batik Bali ini dan melestarikannya. Mereka yang melestarikan batik Bali ini hanya 10 persen dari pengrajin kain ikat atau endek di Bali,” tutur perempuan kelahiran Malang, 26 Maret 1971 itu.
Dalam melestarikan batik Bali, ia butuh perjuangan panjang. Selama 15 tahun bergelut di dunia fesyen, secara bertahap ia membuat kain batik Bali ‘naik kelas’. Hal tersebut terbukti dengan gayanya mengeksplor kain tradisional ini menjadi koleksi-koleksi cantik.
Ia mengekpresikan dalam gaun, baju, tas, sepatu, kipas, dan aksesori fesyen lainnya lewat brand Balibatiku yang dirintisnya sejak 2012, sebelumnya bernama Merumas.
Bahkan, ia mengenalkan batik Bali sejak di Indonesia Fashion Week 2013 dengan mengambil tema “Batik Bali Has Born”. Tidak hanya itu, ia juga melestarikannya hingga Hong Kong Fashion Week 2006 dan 2009.
Setelah melalui perjalanan panjang memerjuangkan batik Bali, Bintang Mira tidak sedikit mengalami tantangan dan hambatan. Salah satunya, masyarakat Bali dan Bupati Gianyar sempat menolak karya-karyanya. Hal ini menurutnya sangat meyedihkan.
Mereka menganggap Bali tidak memiliki batik. Padahal, setiap pengerjaan dengan menggunakan ‘malam’ sudah dipastikan adalah batik. Hingga akhirnya, ia membuktikan bahwa batik Bali diterima di pasar dan ia akan terus menggaungkan ke kancah international.