POPULASI ikan hiu yang terjaga baik memberikan dampak positif. Salah satunya dirasakan oleh wisata di Papua, Raja Ampat.
Riyanni Djangkaru yang dikenal sebagai traveller menceritakan pengalamannya ketika mengunjungi Raja Ampat. Menurut pemimpin komunitas Saveshark ini menceritakan, dahulu orang-orang di Raja Ampat menangkap ikan harus pergi ke laut lepas yang jauh.
"Tetapi, begitu ada sosialiasi tentang pentingnya hiu, mereka membiarkan ikan hiu hidup. Akhirnya, karena fungsi hiu yang hidup itu mulai terlihat, variasi ikannya juga menjadi banyak," ujarnya saat berkunjung ke redaksi Okezone di Gedung HighEnd, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, belum lama ini.
Pada akhirnya, menurut Riyanni masyarakat di Raja Ampat tidak lagi seperti menangkap ikan, tetapi cukup mengambilnya. Bahkan, menurut Riyanni orang-orang di Raja Ampat kini mencari ikan seperti mengambil di pekarangan rumah, karena variasi dan populasinya terjaga.
Selain itu, menurut Riyanni, dengan terjaganya populasi hiu juga berdampak positif terhadap perekonomian masyarakat di Raja Ampat. Dengan tidak lagi memburu sirip hiu, Riyanni mengatakan, pendapatan masyarakat di Raja Ampat menjadi lebih baik.
"Kalau dulu mereka yang masih menangkap hiu andalan terbesarnya adalah sirip hiu, itu seminggu sekali bisa mendapat satu sampai dua juta. Tetapi, kalau misalnya ikan-ikan lainnya ada terus setiap hari, mungkin mereka hanya bisa dapat Rp150-400 ribu, tetapi itu setiap hari," jelas wanita yang juga seorang diver ini.
Namun, menurut Riyanni terkadang seseorang memang ingin hasil uang yang banyak dan cepat, tetapi pendapatan menjadi tidak menentu. Oleh karena itu, Riyanni Djangkaru bersama komunitas Saveshark mengenalkan fungsi hiu sebagai keberlanjutan ketersediaan makanan dan pemasukkan ekonomi.
"Hal itu telah terbukti, Raja Ampat sudah maju bukan hanya dari Pariwisata, tetapi perikanan," tutupnya.