Keluarga dari orang yang meninggal tidak memiliki dana cukup untuk melakukan upacara Ngaben, kerabat lainnya siap untuk iuran. "Semisal keluarga itu tak memiliki uang untuk prosesi Ngaben, bisa iuran bersama,"paparnya.
Okezone mempunyai kesempatan melihat langsung prosesi Ngaben tersebut. Prosesi puncak ‘pretiwa’ itu dimulai dengan ritual mengusung jenazah yang dilaksanakan oleh pihak keluarga dan kerabat Puri.
Dua orang cucu dari Anak Agung Biang Rai duduk diatas kursi yang sudah dihias. Sambil di gotong, cucu dari keluarga duka itupun memegang panji-panji kebesaran dari neneknya. Sedangkan putra tertua, berdiri disamping jenazah ibunya yang sudah ditaruh diatas bade.
Jenazah kemudian diarak menuju areal pemakaman. Di setiap perempatan jalan, jenazah yang sudah ditaruh di atas bade diputar-putar sebanyak tiga kali.
Ini dimaksudkan agar roh jahat tidak mengikuti jenazah atau para pengantar jenazah yang hendak di Ngaben tersebut.
Setibanya di areal pemakaman, jenazah ditaruh di atas panggung yang terbuat dari batu. Sebelum dibawa ke atas panggung, dua orang pendeta melakukan ritual terlebih dahulu. Sesaji serta persembahan lainnya telah dipersiapkan di sekitar areal pembakaran. Menurut Anak Agung Ngurah Putra, hanya kalangan berkasta brahmana atau Kesatria saja yang boleh di Ngaben di atas panggung tersebut.