TEH putih atau white tea mungkin sudah sering kita dengar, namun kebiasan mengonsumsinya masih terbilang rendah, ketimbang teh hijau atau varian teh melati. Salah satu alasannya karena harganya yang jauh lebih mahal.
Teh putih rata-rata dibanderol dengan harga tinggi. Untuk 100 gram teh putih, bisa dihargai lebih dari Rp500 ribu. Lalu apa alasannya sehingga teh putih begitu mahal?
Ifah Syarifah Hendrayati, pemilik rumah usaha Arafatea, menuturkan, salah satu alasan mengapa teh putih cenderung lebih mahal, yaitu karena proses pengolahannya yang cukup rumit. Bagian teh yang diambil untuk membuat teh putih, yaitu hanya bagian pucuknya yang belum mekar. Prosesnya pemetikannya pun tidak boleh terkena tangan secara langsung, bahkan saat mengolahnya agar bisa dikonsumsi.
"Waktu memetiknya juga antara pukul 05.30 WIB sampai 09.00 WIB. Karena kalau sudah lama terkena sinar matahari, pucuknya itu pasti mekar," tutur kepada Okezone di Bandung, Jawa Barat.
Ia melanjutkan, untuk satu hektar kebun teh, hanya bisa dihasilkan sekira satu kilogram teh putih. Setelah dipetik, teh putih pun diolah dengan cara alami. Proses pengeringannya secara alami, hanya boleh dari panas matahari. Bukan dikeringkan dengan mesin.
Menilik proses pengolahannya yang demikian, tak heran jika harga teh putih mau tidak mau harus dihargai lebih tinggi. Sehingga wajar ketika teh putih menjadi primadona di antara teh lainnya.
Alasan lainnya mengapa teh ini menjadi lebih mahal ketimbang teh-teh jenis lainnya, Ifah menyebutkan, yaitu khasiat atau manfaat kesehatannya bagi tubuh.
"White tea itu bagus untuk daya tahan tubuh," kata Ifah. Selain itu, teh putih juga bermanfaat untuk detoksifikasi atau membuang racun-racun pada hati. Teh putih pun mengandung antioksidan dan vitamin C yang tinggi.
Mereka yang selama ini sering minum obat-obatan karena sakit bertahun-tahun, lanjut Ifah, juga disarankan minum teh putih. Bahkan manfaat positif juga bagus untuk penyembuhan kanker.
"Untuk kanker, disarankan minum teh putih setelah kemoterapi," pungkasnya.(ndr)
(Tuty Ocktaviany)