“Misal, ada pasien darah tinggi. Apa harus kita kasih obat termahal di dunia dan bisa sembuh? Sebenarnya bukan itu, kami juga harus proaktif dan kami bisa memberi obat ringan atau generik dan mengawasi, menasihati, bahkan kalau perlu memanggil pasien untuk cek satu bulan sekali. Kalau hasilnya bagus dan harapan kita tidak akan menjadi stroke dalam hal ini,” ungkapnya.
Kedua, impian Menkes Nila untuk membangun layanan kesehatan primer ingin menguatkan rumah sakit regional, yakni agar pelayanannya jauh lebih lengkap dari puskesmas dan lokasinya jauh dari rumah sakit tipe A.
“Kita mau melakukan penguatan rumah regional, karena itu akan diperhatikan dari puskesmas ke sekunder. Tapi lokasinya jangan dekat dengan rumah sakit tipe A. Harusnya regional mudah terakses, misal di Jakarta Timur atau di Jakarta Barat yang penduduknya cukup banyak. Rencana ini ide bagus dari Kemenkes RI dan akan dikembangkan se-nasional,” ungkap Menkes Nila.
Ketiga, perempuan asal Minang ini juga ingin meningkatkan fasilitas rumah sakit tipe D atau umumnya dikenal dengan rumah sakit umum daerah. Guna mewujudkan impian ini, Menkes Nila menggandeng seluruh jajaran Kemenkes RI untuk menyatukan pikiran agar tidak berbeda arah.
“Dalam hal ini, kami juga meningkatkan rumah sakit umum daerah yang sudah ada, sesuai anggaran yang sudah ada, dan rumah sakit tipe A tetap mendukung. Tentu saya harus kerjasama dengan jajaran eselon I, II, dan III untuk menyatukan konsep untuk menjalankan program. Inilah tugas kita yang mengejawantahkan sampai ke bawah,” tutupnya.
(Renny Sundayani)