MEMASUKI vihara, Anda akan langsung disambut asap-asap hio yang membuat mata perih. Namun, ada mitos di balik asap hio yang terbakar.
Setiap memasuki ruang sembahyang, para jemaat akan mengambil segenggam hio seukuran lidi, begitupun di vihara tertua di Jakarta, Vihara Dharma Bhakti. Di ruang sembahyang bangunan utama vihara, asap hio dan lilin menyeruak hingga membuat mata menjadi perih.
Namun, ternyata asap dari hio yang terbakar memiliki cerita sendiri. Menurut salah satu pengurus Vihara Dharma Bhakti, Awai, asap hio diyakini menunjukkan sifat seseorang.
"Asap dari hio itu katanya menunjukkan sifat seseorang. Jadi, ketika hio terbakar asapnya akan tercium oleh orang lain, wanginya itu akan menunjukkan sifat orang lain," ujarnya kepada Okezone di Vihara Dharma Bhakti, Jalan Kemenangan III, Pecinan Glodok, Jakarta Barat, Rabu 18 Februari.
"Kalau wangi asap yang tercium harum itu pertanda orangnya baik. Nah, kalau tidak maka sebaliknya," tambahnya.
Sementara, Awai mengatakan tidak ada ketentuan jumlah hio yang harus dibakar setiap ibadah. Paling sedikit, biasanya jemaat membawa tiga hio untuk dibawa ke altar lalu ditancapkan ke dalam pot emas.
(Yogi Cerdito)